Your browser (Internet Explorer 7 or lower) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.

X

Agama Syiah Dan Landasan Kepercayaannya Bag 1

Telah menjadi satu kelaziman yang logis dan satu tuntutan moral, apabila seseorang hendak membahas, membicarakan dan mengungkap keadaan dan hakekat sesuatu Agama, kepercayaan atau sesuatu idiologi dan faham; maka argumentasi dan dalil yang seharusnya dipakai dan diketengahkan dalam pembahasan itu adalah dari sumber authentik dan asli dari Agama, kepercayaan, idiologi dan faham yang hendak di bahas, di ungkap dan di bicarakan itu, seperti contoh :

1. Bila orang hendak membicarakan Agama Islam, maka sumber Agama Islam yang authentik adalah : Kitaballah dan Sunnah Nabi s.a.w. yang shahih yang terhimpun dalam kitab-kitab Hadits dan Syarah-syarahnya serta kitab-kitab fiqih yang Mu'tabar.

2. Bila orang hendak membicarakan Agama Nasrani yang authentik adalah : Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan buku-buku pedoman Nasrani yang diakui oleh Gereja Katholik, Gereja Orthodox atau Gereja Protestan.

3. Bila orang hendak membicarakan Agama Yahudi, maka sumber Agama Yahudi yang authentik adalah : Taurat, Talmud atau Mishnah dan Gemara serta Midrash, Braitha dan Risalah-risalah Rabi-rabi.

4. Bila orang hendak membicarakan Komunisme, maka sumber Komunisme yang authentik adalah Daskapital, Manifesto Komunis dan Norma-norma Sosialis yang disepakati oleh peletak faham itu.

5. Begitu juga halnya dengan Agama Hindu dan Agama Buddha.

6. Demikianlah juga dengan Agama Syiah dan Kepercayaannya, bila orang mau membicarakannya dan mengungkap hakekatnya, apakah Agama Syiah itu ada hubungannya dengan Islam atau tidak, tentu menjadi suatu kewajiban yang lazim dan logis bagi yang membahasnya untuk berargumentasi dan berdalil hanya dari buku-buku rujukan dan referensi syiah yang authentik dan mu'tabar, buku-buku rujukan yang disaksikan dan diakui dan dibenarkan oleh tokoh-tokoh Ulama Syiah yang Masyhur dan dikagumi oleh seluruh lapisan ulama syiah.

Maka berdalil dan berargumentasi mengenai Agama Syiah dari buku-buku yang merupakan sumber rujukan Agama Syiah, yang diakui dan dijunjung tinggi oleh tokoh-tokoh Ulama Syiah, tidaklah ada alasan bagi siapapun untuk berkata "itu adalah dalil-dalil yang dibuat-buat" atau "Buku-buku itu bukan dari Syiah" atau "Buku-buku itu sudah direvisi dan disaring" dan alasan-alasan picik senada, sekedar untuk mengelak dan menutupi aib dan belang, bagaikan burung onta yang melindungi kepalanya dengan membenamkannya kedalam tanah, sedangkan badanya yang besar gemuk terpapar konyol. Sekarang perlu kita ketahui, siapakah yang dimaksud dengan Syiah itu sepanjang pengakuan dan identifikasi mereka sendiri, serta apakah landasan dan asas Agama mereka itu, buku-buku dan literatur apakah yang menjadi sumber rujukan Agama mereka itu, pujian dan sanjungan tokoh-tokoh Ulama mereka kepada buku-buku itu maupun pengarangnya; referensi pujian setinggi langit yang diberikan kepada buku-buku itu dan pengarangnya oleh tokoh-tokoh Ulama Syiah yang sangat dikagumi dan dikultuskan oleh kaum Syiah.

Maka sebelum melanjutkan pembahasan ini perlu kita ketahui apa yang dimaksud dengan kata Syiah, dari mana asal-usul nama itu, siapakah mereka yang menamakan diri mereka Syiah dikala itu, dan apakah mereka sama dengan yang dikenal dengan Syiah yang datang kemudian?.

Definisi Syiah dan Asal-muasalnya

Artian bahasa dari kalimat Syiah, adalah : Pengikut, Pembela, menurut Kamus, Syiah seseorang, adalah pengikutnya dan pembelanya, kata itu dipakai untuk perorangan atau kelompok, untuk laki maupun perempuan. Maka kalimat Syiah atau Attasyayyu' dalam pengertian bahasa, adalah Pengikutan, Pembelaan atau menyatu untuk pembelaan dan kepentingan seseorang, atau sesuatu perkara, pada mulanya kata itu adalah umum tidak spesifik untuk sesuatu golongan;' tetapi kemudian kata Syiah itu menjadi spesifik untuk mereka yang menamakan din pengikut Ali dan keluarganya, maka bila dikatakan si anu itu dari Syiah maka langsung diketahui identitas yang bersangkutan (lihat Alkamus, materi Sya'a).

Adapun kata Syiah menurut istilah, maka berkata tokoh Syiah dan ulamanya yang bernama Almufid, bahwa kata Syiah itu : spesifik pengikut amiral mukminin membela dan sumpah setia kepadanya dalam percaya dan beritiqad terhadap Imamahnya sesudah Rasulillah selawat atasnya dan keluarganya, tanpa sesuatu pembatas, dan menolak kepemimpinan siapa saja yang menjadi Khalifah sebelumnya....(Awail Almaqalat hal. 39), definisi kitab-kitab Syiah yang lain lebih menyeluruh, dan berkata : Barang siapa beritiqad bahwa Amiral mukminin Ali Alaihissalam adalah manusia yang paling utama sesudah Rasulillah S.A.W., dan berhak dia dan keturunanya menjadi Imam maka dia itu adalah, Syiah, dan barang siapa percaya selain itu, dia bukan Syiah. (Tarikh Alimamiyah hal. 33-34), dan banyak lagi ta'rif yang mencakup semua segi itiqad mereka. Tetapi akan menjadi jelas apabila kita mengikuti rentetan-rentetan timbulnya pengertian dan asal mulanya Syiah itu.

Karena asal mula yang dikatakan Syiah, adalah, yang menganggap Ali lebih afdhal dad Utsman sehingga disebut Syiahnya Ali, dan barang siapa yang menganggap Utsman lebih afdhal dari Ali, disebut Syiahnya Utsman.

Maka inilah ta'rif dan pengertian "Syiah" pada mulanya, sebab Syiahnya Ali dikala itu tetap menganggap Abubakar dan Umar lebih afdhal dad Ali, karena menurut Syiahnya Ali sendiri, Alilah yang berkata demikian.

Tidak pernah ada penyimpangan dikala itu dalam persoalan Aqidah dengan saudara­saudaranya yang lain selain soal tafdhil itu saja, sampai Ahli-ahli Hadits dikalangan Sunnah meriwayatkan Hadits-hadits dari mereka, karena tidak ada keraguan dalam lurusnya itiqad dan adalah mereka.

Kata "Syiah" tidak pemah dikenal pada zaman Abubakar dan Umar, dan Syiah, yang ada di zaman Utsman dan Ali, adalah Syiah Tafdhil saja.

Tetapi yang pertama menanam dan menebarkan benih Syiah yang menyimpang dalam itiqad dan menyimpang dad itiqad kaum Muslimin, adalah seorang Yahudi Yaman yang bemama Abdullah Bin Saba', atau di gelar Ibnussawda, yang memulai gerakan dan missinya di akhir khilafahnya Utsman Bin Affan; bermula dari Ibnu Saba' inilah berkembang biak itiqad-itiqad yang menyimpang jauh dari itiqad murni Ahlilbait dan Assalafissolih.

Untuk ini periksalah lebih lanjut, kitab-kitab tarikh, dari kedua pihak, dan periksa kitab­kitab Syiah di bawah ini : Assyiah Fittarikh, hal. 39-40, Murtadla Alaskan dalam bukunya : Abdullah Bin Saba' hal. 17, Wu'addhussalatin, hal. 274, kitab Ashhilah Bayna Attasawuf-wattasyayyu' hal. 40-41, Saad Alqummi dalam kitabnya : Alfiraq Walmaqalat, dan banyak lagi.

Dari sumber Yahudi inilah asal-muasal penyimpangan dalam itiqad Syiah itu, yang sungguh bertentangan dan bertolak belakang dengan Dinil Islam. Hal nt dapat dibuktikan dari buku-buku rujukan sumber agama mereka berikut ini :

1. Syiah yang dimaksud di sini adalah, Syiah lmamiyah Itsna Asyariyah, Ja'fariyah ; sekte Syiah inilah yang merupakan mayoritas di kalangan Syiah di seluruh Dunia, mereka berada di Iran, Irak, Libanon, sebagian kecil di India, Pakistan dan negeri-negeri Teluk Mereka menamakan diri mereka Imamiyah atau Itsna Asyariyah, karena mereka percaya bahwa sesudah Rasulullah S.A.W. yang boleh ada sebagai Khalifahnya hanya Dua belas Imam yang bersifat Ma'shum seperti halnya Nabi, malah dalam beberapa hal lebih dari Nabi (nanti dapat dibuktikan di keterangan mendatang). Imam-imam mereka, yang mereka anggap ma'shum, dan tidak boleh selain mereka menjadi Khalifah-khalifah sesudah Nabi wafat, adalah :

1. Ali Bin Abi Tholib

2. Alhasan Bin Ali

3. Alhusain Bin Ali, dan 9 (sembilan) dari keturunan Alhusain Bin Ali saja dan tidak boleh selainnya sekalipun turunan Alhasan Bin Ali, mereka itu adalah :

4. Ali Zainal Abidin Bin Alhusain

5. Muhammad Albagir Bin Ali Bin Alhusain

6. Ja'far Assodiq Bin Muhammad

7. Musa Alkadhim Bin Ja'far Bin Muhammad

8. Ali Arridha Bin Musa Bin Ja'far

9. Muhammad Aljawad Bin Ali Bin Musa

10. Ali Alhadi Bin Muhammad Bin Ali

11. Hasan Alaskari Bin Ali

12. ? Muhammad Almahdi Bin Hasan yang mereka anggap Imam mereka yang ke dua belas, yang sedang gaib di sebuah gua di Samira Irak.

Pada angka 12, saya letakkan tanda tanya ?, hal itu menunjuk bahwa Imam ke dua belas mereka ini tidak pernah ada, mereka merekayasa dan mereka-reka adanya, karena sudah terlanjur percaya adanya dua belas Imam, dimana mereka berdalih bahwa Imam ke dua belas itu sedang gaib, dan nanti pada suatu masa akan datang. Rekayasa mereka ini sebetulnya didustakan oteh literatur-literatur mereka yang penuh dengan saling tolak belakang, seperti apa yang ditulis oleh Annubakhti dalam bukunya : FIRAQ ASSYIAH, halaman 116,118. Mengenai Hasan Alaskari Imam ke 11 mereka, ayahnya Imam ke 12, yang dikatakan gaib itu, dikatakan oleh Annubakhti dalam kitabnya.

توفي ولم يرى له اثر ، ولم يعرف له ولد ظاهر، فاقتسم ميراثه أخوه جعفر و أمه. (فرق الشيعة للنوبختي ص ۱۱۸،١١٩ )

Dia telah mati dan tidak terlihat baginya bekas dan tidak dikenal baginya anak yang nyata, oleh sebab itu harta peninggalannya di warisi oleh saudaranya Ja'far dan ibunya (Firaq Assiyah, Annubakhti hal. 118/116)

Maka dengan kematiannya Alhasan Alaskari Imam ke 11 mereka ini dengan tidak adanya anak baginya sebagai imam ke dua belas, telah menimbulkan keributan dan pertentangan yang besar di kalangan syiahnya, di mana mereka terpecah dalam empat belas kelompok sebagaimana dituturkan oleh ulama mereka Annubakhti dalam kitabnya FIRAQ ASSYIAH.

Menurut kepercayaan dan itiqad syiah, Imam-imam mereka itu bersifat ma'shum semenjak lahir, tidak dapat lupa dan tidak dapat berbuat kesalahan sekecil apapun, malah derajat mereka lebih dari para Nabi, mempunyai keistimewaan yang luar biasa, seperti mengetahui ilmu gaib, dan beberapa sifat Ketuhanan. (akan kami jelaskan terinci dari buku-buku rujukan mereka).

Selain sekte Syiah lmamiyah ini ada berpuluh sekte syiah lagi yang tidak kurang kesesatannya dari sekte Syiah lmamiyah itu ; diantaranya adalah : Sekte Ismailiyah dan pecahannya seperti Alqarimitah serta Adduruz, Annusairiyah, Aljarudiyah, Alkaisaniyah dan puluhan lainnya. Selanjutnya lihat, "Aqidah Al-Ghaibah"

Sekarang kita perlu membicarakan sumber rujukan agama mereka itu, kapan buku-buku itu ditulis, siapa tokoh-tokoh ulama utama di kalangan Syiah lmamiyah yang menjadi penulisnya, pujian dan sanjungan setinggi langit yang diberikan untuk buku-buku itu maupun penulisnya, serta kedudukan dan martabat buku-buku itu di kalangan Syiah lmamiyah Itsna Asyariyah.

Sumber rujukan agama Syiah lmamiyah yang terutama, dihormati dan disegani oleh semua ulama syiah, sumber utama yang dari padanya buku-buku syiah sesudahnya menimba ilmu mereka ; rujukan itu adalah 4 (empat) yang terkenal dikalangan mereka dengan " KITAB-KITAB EMPAT YANG SHAHIH " nama dari keempat kitab itu maupun penulisnya adalah:

PERTAMA :

ALKAFI, yang dikarang oleh: Abuja'far Muhammad Bin Ya'kub Bin Ishaq Alkulaini, berasal dari Kulain, satu desa di Iran, meninggal pada tahun 329 H di Baghdad, berisikan 16199 Hadits (lihat pengertian Hadits, dikalangan Syiah) Kitab Alkafi tersebut dipuji setinggi; langit oleh ulama syiah seperti berikut:

قال الشيخ المفيد : الكافي و هو من اجّل كتب الشيعة و اكثرها فا ئدة ( تصحيح الاعتقاد ص ٢٧)

Artinya :

Telah berkata Assyaikh Almufid: Alkafi adalah dari bilangan kitab-kitab syiah yang termulya dan paling banyak faedah (Tashihul-I'tiqad hal 27)

وقال المحقق علي بن العالي الكركي ، في اجازته للقاضي صفي الدين عيسى: الكتاب الكبير في الحديث ، المسمى بالكافي ، الذي لم يعمل مثله....وقد جمع هذا الكتاب من الأحاديث الشرعية و الأسرار الدينية ما لايوجد في غيره (بحار الأنوار ج ٢٥ ص ٦٧)

Artinya :

Telah berkata Almuhaqiq Ali Bin Abdil-Ali Alkarki dikala memberi ijazah pengukuhan kepada Algadhi Shafiyyiddin Isaa ; kitab yang besar dalam Hadits, yang bernama Alkafi, yang tidak pernah dibuat sepertinya, kitab ini telah menghimpun dari syareat dan rahasia-rahasia agama yang tidak terdapat di kitab yang lain (Biharulanwar 25 hal. 67).

وقال الفيض الصافي: الكافي....اشرفها و اوثقها و اتمها و اجمعها؛ لاشتماله على الأصول من بينها، وخلوه من الفضول و شينها ( الوافي ج ۱ ص ٦ طبعة طهران ۱٣٢٤ )

Artinya :

Telah berkata Alfaidh: ALKAFI .... yang termulya, yang terbenar, tersempurna dan terlengkap diantara yang lain, dan kosongnya dari kecerobohan dan keburukan (Alwafi 1 hal 6 cetakan Teheran 1324 H)

وقال المجلسي: كتاب الكافي...أضبط الأصول واجمعها، واحسن مؤلفات الفرقة الناجية و أعظمها (مرأة العقول ج ۱ ص ٣ )

Artinya :

Telah berkata Almajlisi: ALKAFI .... ushul yang paling jitu dan sempurna, dan yang paling baik dan paling agung diantara kitab-kitab karangan Firgah yang selamat (Mir'atuluqul 1 hal. 3)

وقال المولى محمد أمين الاسترابادي في الفوائد المدنية: وقد سمعنا عن مشائخنا و علمائنا أنه لم يصنف في الاسلام كتاب يوازيه أو يدانيه ( مستدرك الوسائل ج ٣ ص ٥٣٢ )

Artinya :

Telah berkata Almawla Muhammad Amin Alistarabadi di kitab Alfawaid Almadaniyah kami telah mendengar dari masyaikh-masyaikh (guru-guru) dan ulama-ulama kami, bahwa tidak pernah dibuat dalam Islam kitab yang dapat menyamai atau menandinginya (Mustadrak Alwasail 3 hal. 532).

وقيل فيه : هو أجل الكتب الاربعة، الأصول المعتمدة عليها لم يكتب مثله في المنقول من آل الرسول، لثقة الاسلام محمد بن يعقوب الكليني الرازي المتوفي سنة ٣٢٨ ( الذريعة الى تصانيف الشيعة ۱٧ ص ٢٤٥ )

Artinya :

Dia kitab yang termulya diantara keempat kitab, ushul yang menjadi panutan, tidak pernah ditulis sepertinya dari yang ternukil dari keluarga Rasul, yang ditulis oleh kepercayaan Islam, Muhammad Bin Ya'kub Alkulaini Arrazi yang meninggal tahun 328 H (Adzzari'ah Ila Tasanif Assyiah, Agha Bazrak Attahrani 17 hal. 245).

وقال حسين علي المقدم عن الكافي: يعتقد بعض العلمأ أنه عرض على القائم صلواة الله عليه فاستحسنه وقال: كاف لشيعتنا ( مقدمة الكافي )

Artinya :

Telah berkata Husin Ali Almuqaddam : sebagian dari ulama (syiah) percaya bahwa dia (Alkafi) dipersembahkan kepada Alqaim (Imam mereka yang gaib) salawat Allah Alaihi; dimana menyenangkannya dan berkata cukup (kitab ini) untuk syiah kami (Pendahuluan Alkafi). Perhatikan, arti "Alkafi" adalah "yang cukup"

ويقول عبد الحسين شرف الموسوي عن الكتب الأربعة: هي الكافي و التهذيب و الاستبصار و من لا يحضره الفقيه، وهي متواترة ومضا مينها مقطوع بصحتها و الكافي أقدمها و أعظمها و أحسنها وأتقنها ( المراجعات ص ۱۱٠ )

Artinya :

Telah berkata Abdul Husain Syaraf Almausawi memuji keempat kitab ; kitab-kitab itu adalah, Alkafi dan Attahzib dan Alistibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih kitab-kitab itu adalah Mu'tawatir dan kandungannya terpasti kebenarannya dan Alkafi diantaranya yang paling awal, paling agung, paling bagus dan paling sempurna (Almurajaat hal 110).

Apa yang tersebut di atas adalah pujian ulama syiah terhadap kitab Alkafi yang tidak perlu dikomentari lagi. Sekarang pujian mereka terhadap Alkulaini pengarang kitab Alkafi itu.

قال النجاشي : شيخ أصحابنا في وقته بألري، و وجههم وكان أوثق الناس في الحديث و أثبتهم ( الرجال للنجاشي ص ٢٦٦ )

Artinya :

Telah berkata Annajasi : (dia adalah) syaikh (guru) kawan-kawan kami pada zamannya di negeri Array, dan pemuka mereka, dia adalah yang paling dapat dipercaya diantara manusia dalam soal hadits dan paling pasti kebenarannya diantara mereka (Kitab Arrijal hal. 266).

وقال السيد رضي الدين ابن طاؤس : الشيخ المتفق على ثقته و امانته محمد بن يعقوب الكليني ( كشف المحجة ۱٥٨ )

Artinya :

Telah berkata Assayyid Radhiyuddin Ibin Thawus ; dialah syaikh yang disepakati (ulama syiah) kebenarannya dan amanatnya, ialah : Muhammad Bin Ya'qub Alkulaini (Kasyfulmahajjah hal. 158).

Dan segudang pujian dan sanjungan lagi.

KEDUA :

Kitab sumber rujukan kedua yang mereka sebut sahih adalah MAN LA YAHDHURUHUL FAQIH dikarang oleh tokoh mereka Abi Ja'far Assaduq, Muhammad Bin Ali Bin Alhusain Bin Musa Bin Babawaih Alqummi, meninggal tahun 381 H, terdiri dari 6593 Hadits ; berkata Muhammad Shodiq Asshadr memujinya : ini adalah sumber kedua bagi Assyi'ah, dan berkata : tokoh kami Assaduq telah mencapai satu kedudukan yang mulia dizamannya yang tidak pernah dicapai oleh orang lain, dan merupakan orang yang pertama mendapat gelar ASSADUQ (yang benar) dimana gelar itu khusus baginya, dimana dengan gelar itu langsung orang mengenalnya, gelar itu didapat karena kepastiannya dalam meriwayatkan, serta kekuatan hafalannya dan ketelitiannya (Assyi'ah hlm. 124).

KETIGA :

ATTAHDZIB, oleh tokoh ulama syiah, Abi Ja'far Muhammad Bin Alhasan Ali Atthusi, meninggal tahun 460 H. , kitab ini merupakan ketiga bagi agama syiah mencakup 13590 hadits.

Telah disebutkan tentang kitab ini : Ia merupakan bekal bagi seorang faqih tentang apa yang diminta dari riwayat-riwayat hukum pada umumnya yang tidak dapat dipenuhi oleh selainnya. (Assyiah him. 125 - 126).

KEEMPAT :

AL-ISTIBSHAR, oleh tokoh ulama Syiah Abi Ja'far Atthusi juga yang digelar dengan Syaikhuttaifah (tokoh ulama syiah), buku ini terdiri dari 6531 hadits, yang sebenamya buku ini adalah keringkasan dari Attahzib.

Inilah keempat kitab mereka dalam hadits yang mereka anggap shahih (benar), yang mereka percaya, dan mengakui keagungannya, kebenarannya, dan kebagusannya yang mereka puji buku-buku itu maupun pengarangnya dengan sanjungan dan pujian setinggi langit.

Dari buku-buku inilah bercabang banyak buku-buku mereka yang lain yang senada dan seirama dengan keempat induk rujukan itu, seperti : ALWAFI, yang dikarang oleh Almulla Muhsin Alkasyi, WASAILUSSYIAH, yang dikarang oleh Muhammad Bin Hasan Bin Alhurrulamili, BIHARULANWAR, dikarang oleh Almajlisi, ALAWALI FILHADITS, dikarang oleh Albahrani, MUSTADRAK ALWASAIL, dikarang oleh Mirza Husin Annuri Attibrisi pengarang kitab celaka FASHLULKHITAB, ALANWARUNNUMANIYAH, dikarang oleh Ni'matullah Aljazairi, ALIHTIJAJ, oleh Ahmad Bin Ali Attibrisi, dan banyak lagi. Begitu juga mereka mempunyai kitab-kitab mengenai perawi-perawi hadits, seperti Rijalul Kissyi, Rijalun Najasi, Rijalutthusi dan lain sebagainya.

Kitab-kitab tafsir mereka yang terkenal adalah tafsir Alqummi, Abulhasan Ali Bin Ibrahim Alqummi, yang dipuji oleh Annajasi dengan : benar dalam hadits, teliti dapat diandalkan, lurus alirannya, banyak mendengar dan mengarang kitab-kitab, dan mempunyai Kitabuttafsir (Rijalunajasi 183).

Telah disebut oleh Alabbas Alqummi dengan pujian : Dia termasuk yang termulia diantara perawi-perawi sahabat-sahabat kami, dan tokoh-tokoh Ahlilhadits meriwayatkan dari padanya, tidak kami ketahui tanggal kematiannya, tetapi dia hidup ditahun 307 H. (Alkuna Walalqab 3 hlm. 68).

Disebutkan juga oleh Agha Bazrak Attahrani dengan : Dia hidup semasa Abilhasan Muhammad Alimam Alaskari AS, dan mengenai tafsirnya dia berkata : Sesungguhnya tafsir itu adalah tafsir kedua Imam yang Shodiq. (Kitab Addzariah 4 hlm. 302).

Setelah kita ketahui sumber rujukan agama mereka serta pujian ulama mereka terhadap kitab-kitab rujukan itu maupun pengarangnya, perlu kita melihat itiqad dan kepercayaan mereka yang terdapat dalam kitab-kitab inti agama mereka itu, apakah syiah imamiyah itu ada hubungannya dengan DINUL ISLAM atau tidak, kemudian kita susul dengan tokoh-tokoh ulama mereka yang membenarkan itiqad-itiqad itu.

1. Abu Abdullah a.s. berkata : "Al Qur'an yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Muhammad S.A.W. adalah tujuh belas ribu ayat ". (Alkaafi fil ushul, 2 : 634, cetakan Teheran Iran).

2. Dari padanya pula : "Pada pihak kami sungguh ada Mushhaf Fatimah a.s. dan tahukah mereka apa mushhaf Fatimah itu ?, isinya tiga kali lipat dibanding dengan AI Qur'an kalian ini, Demi Allah, tidak satupun huruf dari Al Qur'an tersebut terdapat dalam Al Qur'an kalian. (Alkaafi fil ushul 1 : 240-241).

3. Dari Jabir, dari Abi Ja'far a.s. , ia berkata : Saya bertanya : "Mengapa Ali Bin Abi Thalib dinamakan Amirul Mukminin ?" Jawabnya : Allah yang menamakan demikian. Begitulah yang diturunkan didalam kitab suci-Nya yaitu,

Firman-Nya :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيـَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى اَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلِيْ وَأَنَّ عَلِيّاً أَمِيْرُالْمُؤْمِنِيْنَ. ( الكافي كتاب الحجة ج ۱ ص ٤٣٧ )

Artinya :

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari Bani Adam, dari punggung mereka anak keturunan mereka dan ia jadikan mereka saksi alas diri mereka sendiri Bukankah aku ini Tuhan kamu dan Muhammad Rasul-Ku dan Ali adalah Amirul Mukminin (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1 : 437, cetakan Teheran Iran).

4. Diriwayatkan pula, ia berkata Jibril turun membawa ayat ini kepada Muhammad dengan bunyi :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِيْ عَلِيٍّ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ. ( الكافي كتاب الحجة ج ۱ ص ٤۱٧ )

Artinya :

"Dan jika kamu sekalian meragukan terhadap apa yang telah kami turunkan kepada hamba kami tentang Ali, maka datangkanlah satu surat saja yang serupa dengannya". (Al Kaafi Kitabul Hujjah 1 : 417, cetakan Teheran Iran)

5. Dari Abi Bashir, dari Abdilllah a.s. tentang Firman Allah :

مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ وَاْلأَئِمَّةِ بَعْدَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْماً، هَكَذَا أُنْزِلَتُ. ( الكافي كتاب الحجة ج ۱ ص ٤۱٤ )

Artinya :

Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam urusan kewalian Ali dan para Imam sesudahnya, maka sesungguhnya ia memperoleh kemenangan yang besar, demikianlah ayat tersebut diturunkan". (Al Kaafi kitabul Hujjah 1 : 414, cetakan Teheran).

Inilah dia keyakinan kaum syiah terhadap Al Qur'an, suatu keyakinan kafir lagi keluar dari Islam, laksana keluarnya anak panah dari busumya, sepercik dari yang banyak ini bisa kita temukan pada kitab-kitab induk mereka yang terkenal, dari buku Al Kaafi, karya Alkulaini dari kitab Alqummi dan buku Al-Ihtijaj, karya Thibrisi, buku Bashairud darajaat, karya Shaffar, dan Hayatul Qulub, karya Almajlisi, tafsir Alburhan, karya Albahrani dan tafsir Asshafi karya Muhsin Alkashi. Juga buku Fashul Khithab fi itsbattahriifi kitaabi rabbil arbaab karya ulama syiah bernama Mirza Taqiyyunnuuri At Thibrisi, buku Alanwar an Nu'maniyah, karya Ni'matullah al Jazairi, dan buku Kasyful Asrar, karya Khumaini dan lain-lain lagi. Tidak satupun kitab dari buku-buku induk syiah yang menjadi pegangan mereka terlepas dari keyakinan yang merupakan identitas mereka ini , mereka kaitkan keyakinan semacam itu kepada imam mereka yang mereka anggap ma'shum, anggapan yang penuh kepalsuan dan kebohongan, dan mengada-ada atas nama Allah, dan para Aulianya.

Sebelum kita melanjutkan penjelasan pujian dan dukungan ulama syiah terhadap Aqidah Tahrif yang mereka tuduhkan kepada Al Qur'an perlu kita ketahui dulu pengertian Hadits dikalangan Syiah dan Sunnah.

PENGERTIAN HADITS DI KALANGAN SYIAH DAN SUNNAH

Bila orang membaca Hadits-hadits Syiah yang terdapat dalam kitab ALKAFI atau kitab-kitab hadits Syiah pada umumnya, akan melihat adanya perbedaan yang besar dan mendasar antara riwayat hadits-hadits yang ditulis dalam kitab-kitab hadits Ahlisunnah yang biasa disebut "HADITS" dan riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab Syiah, yang juga memakai sebutan "HADITS".

Keenam kitab Ahlisunnah maupun kitab-kitab hadits Ahlisunnah selain keenam kitab itu, bila meriwayatkan sesuatu hadits, maka pasti yang dimaksud dengan hadits itu adalah dinisbahkan kepada Rasulillah, dimana hadits yang dimaksud itu adalah sabda Rasulullah s a.w.

Tidak demikian halnya dengan kitab ALKAFI dan kitab-kitab hadits Syiah Imamiyah yang lain, maka riwayat yang mereka katakan hadits itu, adalah datang dari seseorang imam mereka yang dua belas, dan mereka percaya tidak ada bedanya yang mereka riwayatkan itu bersambung ke Nabi kah atau dari Imam mereka.

Bagi orang yang membaca kitab-kitab hadits mereka itu akan melihat sangat mencolok bahwa kebanyakan hadits yang mereka riwayatkan adalah terhenti sampai imam mereka saja dan sedikit sekali yang bersambung sampai Rasulillah s.a.w. , yang terbanyak yang diriwayatkan di kitab ALKAFI berhenti pada Ja'far Assodiq dan sedikit sekali yang bersambung ke ayahnya, Muhammad Albaqir dan lebih sedikit lagi ke Amirilmu'minin Ali Bin Abi Tholib, dan jarang sekali yang bersambung sampai Rasulillah s.a w.

ALKAFI dan ALKULAINI pengarangnya sangat disanjung dan dipuji oleh semua ulama Syiah yang tidak ada bandingannya dikalangan mereka ; padahal ALKAFI itu mengandung riwayat-riwayat yang menikam dan mendiskriditkan Al Qur'an Kitaballah yang mulia. Dan dengan itu ulama-ulama Syiah menetapkan bahwa riwayat-riwayat dalam ALKAFI tentang Al Qur'an itu, yang menyatakan adanya perobahan dan pengurangan padanya adalah Itiqadnya Alkulaini, sebab riwayat-riwayat itu menurut mereka Sahih dan Mu'tawatir adanya.

Dengan beriqtiqad semacam itu terhadap Kitabillah, yang Allah pelihara dan tidak dapat disentuh oleh kebathilan darimanapun ; bila ada orang beriqtiqad demikian terhadap Kitabillah, bagaimana bisa diterima dan dibenarkan riwayatnya, apalagi disanjung dan dipuji, sebab iqtiqad semacam itu adalah Kufur yang nyata yang jelas bagi ulama-ulama Islam.

1. Telah berkata ulama Syiah ahli tafsir Alkasyi dalam buku tafsirnya "Asshafi fi syarhil kafi fil ushul .... hal. 14" :

Adapun iqtiqad tokoh-tokoh ulama kami Rahimahumullah dalam soal itu (perubahan dalam Al Qur'an), maka yang jelas dari Kepercayaan Islam Muhammad Bin Ya'kub Alkulaini, sejahtera tempat semayamnya , bahwa dia beritiqad (percaya) adanya perubahan dan pengurangan dalam Al Qur'an, karena dia (Alkulaini) meriwayatkan riwayat-riwayat dengan pengertian ini dalam kitabnya ALKAFI, dan tidak pernah ada yang membantahnya, dimana Alkulaini dalam pendahuluan kitabnya menyebutkan bahwa dia percaya kepada apa yang diriwayatkan dalam kitabnya itu, begitu juga gurunya Alkulaini, Ali Bin Ibrahim Alqummi, penuh dengan kepercayaan itu malah melebihi, begitu juga ulama Assyaikh Ahmad Bin Abi Tholib Attibrisi, disucikan jiwanya, mengikuti mereka berdua dalam kitabnya "ALIHTIJAJ".

2. Telah berkata Ahli hadits Syiah Almajlisi dalam kitabnya, Hayatul Qulub .... juz 2 hal. 541.

Di Haji Wada' Rasulullah bersabda : sesungguhnya Ali Bin Abi Tholib Waliku, dan Washiku dan Khalifahku sesudah Aku, tetapi sahabatnya meneladani perbuatan kaumnnya Musa, dan mengikuti berhala ummat ini dan samirinya, yang saya maksud, Abu Bakar dan Umar, dimana orang-orang munafiq itu merampas Khilafahnya Rasulullah dari Khalifahnya (Ali Bin Abi Tholib), dan melampaui itu kepada Khalifahnya Allah, ialah Kitab yang Allah turunkan, mereka rubah dan mereka rusak, dan mereka buat sesuka selera mereka.

3. Telah berkata pemungkas ahli hadits Syiah, Mulla Baqir Almajlisi dalam kitabnya "MIRATUL UQUL" dalam mensyarah bab : tiada siapa-siapa terkecuali para imam yang menghimpun Al Qur'an lengkap.

Tidaklah samar lagi bahwa khabar ini dan banyak lagi khabar yang sah dan nyata adanya kekurangan dalam Al Qur'an dan perubahannya, dan saya mempunyai banyak khabar dalam hal ini yang mu'tawatir ma'nanya (Fashlull Khitab Hal. 252).

4. Dan berkata Albahrani ahli tafsir Syiah yang masyhur dalam muqadimah tafsimya (Alburhan hal. 36)

Ketahuilah, bahwa kebenaran yang orang tidak dapat mengelak dari padanya, menurut khabar-khabar yang mu'tawatir yang ini maupun yang lain, bahwa Al Qur'an yang ada ini, telah terjadi padanya sesudah Rasulillah wafat, perubahan-perubahan, dan banyak kalimat maupun ayat telah dibuang dari padanya oleh penghimpunnya; sedangkan Al Qur'an yang sempurna yang sesuai dengan apa yang Allah turunkan adalah yang dihimpun oleh Ali Alaihissalam, turun-temurun sampai kepada Alqaim alaihissalam, (Imam yang gaib) dimana Al Qur'an itu sekarang ada padanya Selawat Allah atasnya.

5. Dan di halaman 49 dari muqaddimah tafsirnya itu, ia menambah : buat saya jelas kebenaran riwayat-riwayat itu, yaitu riwayat perombakan dan perubahan Al Qur'an setelah mengikut khabar-khabar, dimana itu menjadi satu kepastian hukum dan kelaziman mazhab Syiah, perubahan-perubahan mana menjadi biang keladi perampasan Khilafah, maka perhatikanlah.

6. Dan berkata Attibrisi di kitabnya "ALIHTIJAJ" : Ali Alaihissalam berkata, bila bangkit Alqaim dari anakku (imam mereka yang gaib) akan menunjukannya (Al Qur'an yang mereka katakan asli) dan membuat orang ramai memakainya dan dengannya segala sesuatu berjalan (Alihtijaj 1 hal. 228, 252-258 Assofi 1 hal. 27).

7. Dan telah wajib bagi kami (Syiah) beritiqad bahwa Al Qur'an yang asli tidak berubah dan tidak terganti, dan Al Qur'an yang asli itu hanya ada pada Imamul Ashr yang sedang gaib, semoga Allah menyegerakan munculnya (Aqaid Assyiah, Ali Asgar Albrogardi hal. 27 cetakan Iran).

8. Dan berkata Assayid Ni'matullah Aljazairi, sesungguhnya khabar-khabar yang mem­buktikan itu (perubahan Al Qur'an) malah lebih dari dua ribu hadits, malah beberapa ulama (Syiah) seperti Almufid dan Addamad dan ulama Almajlisi menganggap lebih dari itu (Faslul Khitab hal. 227 cetakan Iran).

9. Ahli tafsir Syiah Muhsin Alkasyi juga berkata :

Dari seluruh riwayat-riwayat dan khabar-khabar dari Ahlul bait alaihumussalam dapat ditarik kesimpulan bahwa Al Qur'an yang ada di tengah-tengah kita tidaklah sempurna sebagai yang diturunkan atas Muhammad, Selawat dan Salam kepadanya dan ahlinya, tetapi ada padanya yang sudah dirubah dan diganti, dan banyak yang terbuang dari padanya..... dan susunannya tidak seperti susunan yang diridlai Allah dan Rasulnya.
(Mugaddimah ke 6 dari tafsir Assofi).

10. Dan berkata Assayid Thoyib Almusawi menuturkan pendapat ulama-ulama Syiah mengenai perubahan Al Qur'an :

Yang jelas dari kalimat-kalimat ulama dan ahli hadits (Syiah) yang terdahulu maupun yang belakang dari mereka sependapat dengan adanya perubahan dan pengurangan itu, seperti : Alkulaini, Albargi, Aliyasyi, Annu'mani, Assayid Aljazairi, Alhururrul Amili, Ulama Alfutuni, Assayid Albahrani, dan untuk memastikan dan mengukuh-kan apa yang mereka percayai mereka berdalil dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang tidak dapat diabaikan (Muqaddimah Tafsir Alqummi oleh Assayid Thoyib Almusawi hal. 23-24).

Terhadap orang Syiah yang bertanya-tanya, kenapa kami membaca dan memakai Al Qur'an yang tidak asli itu ? Ulama Syiah yang terpandang di kalangan Syiah, yaitu Ni'matullah Aljazairi dalam bukunya AI-Annwar Annu'maniyah 2 hal. 363-364, cetakan Teheran berkata :

1. Jika anda bertanya, mengapa (kami) dibenarkan membaca Al Qur'an ini, padahal ia telah mengalami perubahan ?, saya menjawab : Telah diriwayatkan didalam banyak riwayat, bahwa mereka (Imam-imam Syiah) menyuruh Syiah mereka untuk membaca Al Qur'an yang ada ditengah umat Islam ini diwaktu shalat dan lain-lain dan melaksanakan hukumnya, sampai kelak datang waktunya pemimpin kita, SHAHIBUZZAMAN, muncul lalu menarik dari peredaran Al Qur'an yang ada itu, dan mengeluarkan Al Qur'an yang dahulu dihimpun Amirul Mukmini a.s. dimana Al Qur'an inilah yang dibaca dan diamalkan hukum-hukumnya, riwayat-riwayat yang menetapkan ini banyak sekali

2. Ulama mereka yang bernama Alkarmani dalam tulisannya Arraddu Ala Hasyim Assyami, hal. 13, cetakan Karman Iran, berkata - Telah terjadi perubahan kalimat, pemindahan dan pengurangan didalam Al Qur'an; Al Qur'an yang asli, sebenarnya terpelihara, hanyalah yang ada ditangan Alqaim (Imam ke 12 yang sedang gaib) dan kaum Syiah sebenarnya hanyala karena terpaksa membaca Al Qur'an yang ada ini karena taqiyyah yang diperintahkan oleh keluarga Muhammad Alaihimussalam (Imam-imam mereka).

Inilah dia itiqad kaum Syiah terhadap Al Qur'an dan demikianlah tertulis dalam buku--buku induk rujukan agama mereka, serta bimbingan dari para imam-imam dan ulama--ulama mereka yang tertulis dan terpapar jelas dalam buku-buku utama mereka itu, sungguh menjadi saksi atas mereka.

Kalau ada dua, tiga ulama diantara ulama Syiah yang berpura menolak adanya perubahan dalam Al Qur'an itu, adalah semata-mata karena taqiyyah; hal ini dijelaskan sendiri oleh ulama-ulama mereka yang mu'tabar, seperti dibawah ini :

Berkata Ni'matullah Aljazairi : Adalah, Almurtadla dan Assaduq dan Assyaikh Attibrisi yang menyalahi ulama-ulama Syiah yang lain dan berkata tidak terjadi perubahan, dan Al Qur'an yang ada inilah Al Qur'an yang diturunkan; yang dhohir dari pernyataan mereka itu, hanya untuk banyak mashlahat, diantaranya, mencegah celaan orang terhadap Al Qur'an, sebab mereka ulama-ulama tersebut sendiri meriwayatkan dalam buku-buku mereka banyak khabaran yang menetapkan adanya perubahan dalam Al Qur'an, dan ayat ini semestinya begini kemudian dirubah begitu (Alanwar Annu'maniyah).

Ibnu Babawaih Alqummi, yang bergelar Assaduq, menampakan diri menolak adanya perubahan, di Alitiqadat, tetapi di kitabnya yang lain (ALKHISAL hal. 83) dia menetapkan adanya perubahan itu, begitu juga Abu Ali Attibrisi, tafsirnya mengandung banyak riwayat yang menetapkan adanya perubahan-perubahan itu (periksa tafsimya Majma'ilbayan juz.3 hal. 32 cetakan Teheran 1374 H).

Adapun Atthusi, ulama Syiah berkata mengenai buku tafsimya : Tidaklah kabur bagi orang yang meneliti kitab Attibyan, bahwa cara penulisannya itu sangat mengambil hati dan memuai orang yang menentang (Ahlissunnah), yang pasti kitab itu ditulis berdasarkan taqiyyah seperti apa yang disebutkan oleh Assayyid yang mulia Ali Bin Tho'us di kitabnya Su'dussu'ud (Fashlul khitab hal. 34).

Dari apa yang kita baca ini jelaslah bagi orang yang mendambakan kebenaran, gerangan siapakah mereka Syiah itu. Dimana itiqad mereka itu adalah kufur yang terlepas dan tidak ada hubungannya dengan Dinil Islam.