Your browser (Internet Explorer 7 or lower) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.

X

Agama Syiah Dan Landasan Kepercayaannya Bag 2

Selanjutnya mari kita menelusuri dengan jeli kepercayaan dan itiqad Syiah selain yang tersebut di atas.

Kepercayaan Syi'ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka.

Syi'ah Imamiyah Itsna Asyariyah Ja'fariyah berkepercayaan terhadap imam-imam mereka, bahwa mereka mengetahui hal ghaib dan merupakan manusia Ma'shum serta mempunyai derajat lebih tinggi dari para Nabi dan Rasul Allah, dan mereka hanyalah bisa mati atas kehendak mereka sendiri. Mereka menempatkan martabat para imam mereka setaraf dengan derajat ketuhanan, sebagaimana mereka katakan, bahwa para Imam tersebut mengetahui hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi serta mengetahui segala isi surga dan neraka dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka, kebohongan dan kedustaan yang mereka lakukan atas nama Allah, dimana seseorang yang berakal sehat dan berjiwa waras berdiri bulu romanya untuk menukil ucapan semacam itu, tetapi kita mendapati semuanya itu tercantum dalam buku- buku induk mereka yang paling terpercaya dan paling mereka agungkan.

Berikut ini kami kutipkan keyakinan dan pendapat-pendapat mereka sebagaimana tersebut diatas dari kitab-kitab kaum Syi'ah, agar kita mengetahui permasalahannya secara jelas tentang ajaran dan perihal mereka, sehingga kita dapat membantah kebohongan mereka dan tipu daya mereka.

1. Dari Mufadhdhal bin Umar,dari Abi Abdillah a.s. : adalah Amirul Mukminin semoga kesejahteraan Allah banyak terlimpah kepadanya, berkata: "Aku adalah penyalur Allah antara surga dan neraka. Aku adalah pembeda agung antara hak dan bathil. Akulah pemilik tongkat Musa dan telah mengakui diriku semua Malaikat dan Ruh serta rasul-rasul sebagaimana mereka lakukan pengakuan itu kepada Muhammad S.A.W. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah S.A.W. pernah dipanggil lalu dibekali, dan aku pun pernah dipanggil lalu dibekali serta dia diajak bicara dan akupun juga diajak bicara sehingga aku mengucapkan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelum aku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta seluruh silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripadaku tiada terluput dari diriku, dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah dan menunaikan tugas atas nama-Nya. Semua itu dari Allah yang telah menempatkannya pada diriku dengan ilmu-Nya." (Alkali fil Ushul, hlm. 196--197, juz. 1, cetakan Teheran).

2. Ia berkata: "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi serta segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang telah terjadi serta sedang dan akan terjadi", (Alkali fil Ushul, 1:261, cetakan Teheran).

3. Ia berkata: "Allah Tuhan Yang Maha Berbarakah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu: Satu ilmu ditampakkan kepada Malaikat-Nya,para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya. Semua yang ditampakkan pada Malaikat, para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya sesungguhnya kami juga mengetahuinya. Dan satu ilmu yang dikhususkan untuk Dzat--Nya. Bilamana ada sesuatu hal yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal yang demikian itu. Dan para imam yang ada sebelum kami juga diberitahu. (Al Ushul Minal Kafi, 1:255).

4. Dari Abi Abdillah, ia berkata: "Allah telah menciptakan Ulul Azmi di antara Rasul-rasul-Nya dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi ilmu mereka dan kelebihan mereka itu serta kami dilebihkan di atas ilmu mereka. Dan diajarkan kepada Rasulullah S.A.W. apa yang mereka tidak ketahui dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah S.A.W. serta ilmu mereka." (Bashairud Darajat, 5:248 dan Al Fushulul Muhimmah, hlm.156).

5. Dari Abi Abdillah, ia berkata: "Sesungguhnya dunia ini milik Imam dan akhirat pun milik imam. Dia meletakkannya dimana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki." (Alkali fil Ushul, 1:409, cetakan Teheran).

6. Mirza Muhammad Haadi al-Khurasaani berkata: "Telah bersabda Rasulullah S.A.W.: Sesungguhnya surga itu diciptakan untuk orang yang mencintai Ali, sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah. Neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali, walaupun ia taat kepada Rasulullah " (Risalatul Islam Wal Mukjizat, hlm. 276).

7. Kulaini dalam bukunya Alkafi di dalam bab "Para Imam Syi'ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya akan mati atas kehendak sendiri", meriwayatkan dari Abi Bashir, dari Ja'far bin Muhammad al-Baqir, bahwa ia berkata: "Seseorang Imam yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari dirinya dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi, maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untuk makhluk-Nya." (Alkafi fil Ushul, 1:285, cetakan Teheran).

Sungguh melampaui segala batas Kaum Syiah itu, apabila menyanjung dan memuji, merangkai khurofat dan menjalin dusta kemudian mengalamatkan itu semua kepada Imam-imam mereka, bahwa imam-imam itu berkata: "Kami telah diciptakan Allah dari cahaya keagungan-Nya dan badan kami beserta roh-roh Syi'ah kami diciptakan dari tanah istimewa dibawah Al-Arsy, adalah jasad-jasad Syiah dan para Nabi diciptakan dari tanah kurang dari yang semula, sedangkan manusia-manusia selain Syi'ah telah diciptakan Allah dari tanah untuk menjadi kayu bakar untuk api neraka.

Demikianlah apa yang dikatakan oleh Bintang Ulama mereka Alkulaini dalam kitabnya "Alkafi", kitab yang pernah diberi ijazah oleh imam mereka yang gaib dan direstui dengan ucapan "Sungguh cukup kitab ini untuk Syiah kami", dan karena Syahadah Imam itulah kitab tersebut dinamakan "ALKAFI".

Berkata Alkulaini itu :

1. Diriwayatkan oleh beberapa kawan kami, dari Ahmad bin Muhammad dari Abi Isa Alwashithi dari beberapa kawan kami,dari Abi Abdillah a.s, ia berkata Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami dari "Keagungan" dan roh-roh kami diciptakan dari unsur lebih dari itu , dan roh-roh Syiah kami diciptakan dari "Keagungan" juga, dan badan-badan mereka kurang dari itu, oleh sebab keakraban yang ada diantara kami dengan mereka, maka jiwa-jiwa mereka selalu rindu kepada kami. (Alkafi 1, hlm.389).

2. Dari Abi Abdillah a.s. ia berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami dari cahaya keagungan-Nya, kemudian membentuk tubuh kami dari tanah yang tersimpan dan terpelihara dibawah Al Arsy dimana Allah menempatkan cahaya itu didalamnya, oleh sebab itu kami adalah "manusia cahaya", tiada seorangpun diciptakan sebagaimana kami diciptakan, dan Allah menciptakan roh-roh Syiah kami dari unsur yang dari padanya jasad kami diciptakan dan badan mereka dari tanah yang tersimpan dan terpelihara dibawah itu, dan Allah tidak menciptakan siapa pun seperti ciptaan Syiah kami terkecuali para Nabi, oleh sebab itu sebenarnya kamilah dan para mereka itu adalah hakekat manusia, sedangkan manusia-manusia yang lain adalah gerombolan urakan untuk neraka dan ke neraka. (Alkafi 1 hlm. 389).

3. Dari Abi Hamzah Ath-thamali ia berkata: Aku mendengar Abu Ja'far a.s. berkata: Allah menciptakan kami dari keagungan yang paling tinggi dan menciptakan jiwa--jiwa Syiah kami dari unsur itu juga dan badan mereka Allah ciptakan dari materi dibawah itu. Adapun musuh-musuh kami, Allah ciptakan dari kerendahan yang paling bawah dan menciptakan jiwa-jiwa pengikut mereka dari materi di bawah itu. (Alkafi 1, hlm. 390).

Demikianlah itikad kaum Syiah terhadap Imam-imam mereka yang terhimpun dalam kitab-kitab mereka, yang mereka nyatakan sebagai kumpulan literatur yang sah, utama, benar dan baik. Apakah ada kekafiran yang lebih berat daripada kepalsuan dan kebohongan semacam ini ? Adakah patut orang yang berkepercayaan kepada I'tikad dan dongeng-dongeng tersebut dikategorikan sebagai orang Islam dan Ahlil Kiblat? Sungguh Allah Maha Tinggi lagi Maha Suci dari omongan mereka itu.

Berikut ini ayat-ayat Al Qur'an yang terang lagi jelas menolak kebohongan dan kebathilan mereka itu :

1. An Naml, ayat 65 :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ.

Artinya :

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.

2. Al An'am, ayat 59 :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

Artinya :

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

3. Al Jin, ayat 26 :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا.

Artinya :

(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

4. Al An'am, ayat 50 :

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ....

Artinya :

Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat"...

5. Al A'raf, ayat 188 :

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ.

Artinya :

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".

6. Luqman, Ayat 34 :

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

Artinya :

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

7. Al Hijr, ayat 23 :

وَإِنَّا لَنَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَنَحْنُ الْوَارِثُونَ.

Artinya :

Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.

8. Ali Imran, ayat 145 :

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ.

Artinya :

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Ayat-ayat yang jelas tersebut diatas adalah aqidah yang murni lagi bersih dari setiap noda, yang menjadi aqidah Ahlul Kiblat, yaitu Ahlus Sunnah Wal Jamaah, berkaitan dengan ilmu gaib.

Kepercayaan Syiah dan pernyataan mereka tentang kekafiran para ibu kaum Mukminin (istri-istri Rasulullah), serta kebohongan yang mereka atas namakan Allah dan Rasul-Nya serta para pendahulu dari umat Islam ini yang telah membuktikan kebenaran janji-janji mereka kepada Allah serta membela kebenaran dan berlaku adil.

Kami akan nukilkan untuk anda, wahai kaum Muslimin sebagian dari pernyataan Ulama-ulama Syiah dalam kitab-kitab induk mereka (kami memohon ampun kepada Allah Dzat Yang Maha Mulia dan kami bertaubat kepada-Nya, karena menukil pernyataan kekafiran dan kebohongan yang mereka atas namakan para Wali-wali Allah) sekedar untuk maksud memberi bukti atas kesesatan mereka, sehingga setelah melihat kebenaran dipersilahkan untuk binasa, bagi siapa yang menghendaki kebinasaan, dan tetap selamat orang yang mau mengikuti kebenaran.

1. Tokoh ulama Syiah, yaitu Al-majlisi di dalam kitabnya "Hayatul Qulub" 2:700, cetakan Teheran", menyebutkan : "Sungguh al-Ayaasyi meriwayatkan dengan sanad yang mashyur dari ash-Shadiq a.s. bahwa Aisyah dan Hafsah keduanya dilaknat oleh Allah begitu pula kedua bapaknya, karena kedua wanita tersebut telah membunuh Rasulullah dengan racun yang diminumkan kepadanya."

2. Ulama Besar Syiah, Muhammad Baqir Almajlisi dalam kitabnya "Haqqul Yaqiin, hlm.519" berkata: "Kepercayaan kami mengenai tabarru' ialah bahwa kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Muawiyyah, serta empat orang wanita: Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu Hakam, serta semua pengikut mereka dari golongan mereka. Mereka adalah makhluk Allah yang paling jahat di muka bumi. Sesungguhnya tidaklah sempuma keimanan kepada Allah, Rasul-Nya dan para Imam, kecuali jika seorang telah melepaskan diri dari musuh-musuh mereka,"

Wahai para hamba Allah, perhatikanlah kebencian dan kedengkian Syi'i Rafidhi durhaka ini yang berlaku bohong dengan keji, yang mencerca kehormatan para ibu kaum Muslimin, dan para Sahabat Rasulullah yang adalah manusia terbaik sesudahnya dan celaan mereka kepada segenap kaum Muslimin. Namun kita merasa cukup Allah sebagai pelindung kita atas mereka. kami menjadikan Allah sebagai penghukum mereka dan kami berlindung kapada-Nya dari kejahatan-kejahatan mereka.

3. Bintang Ulama Syiah, yaitu Alkulaini di dalam kitabnya Ar-Raudhah Minal Kaafi, 8:245, menyebutkan: "Para sahabat sepeninggal Rasulullah murtad dari padanya, kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al- aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi."

4. Seorang tokoh dan ulama mereka, Salim bin Qais al-Hilali di dalam kitabnya halaman 96, berkata: "Semua sahabat sepeninggal Rasulullah saw. menjadi murtad kecuali empat orang."

5. Ahli Hadits mereka yang terkemuka, Husein bin Abdul Shamad al-Amili di dalam kitabnya "Wushulul Akhyar ilaa Wushulil Akhbar", mengenai sifat-sifat sahabat berkata: "Kami bertaqarrub kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jalan membenci sahabat-sahabat, mencela mereka dan membenci setiap orang yang mencintai mereka." (Baca halaman 164, cetakan Qom, Iran).

6. Mereka menisbahkan suatu kisah bohong dan dusta kepada Ja'far ash Shadiq, katanya: "Apabila sampai kepada kalian dua hadits yang berlawanan, maka ambilah hadits yang berlawanan dengan umat ini (umat Islam) " Dan katanya pula. "Sesuatu yang menyalahi umat Islam , maka itulah sesuatu yang benar."

7. Dan katanya pula: "Demi Allah, kalian sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada mereka (umat Islam). Dan mereka pun sama sekali tidak benar meniru apa yang ada pada kalian. Karena itu berbedalah kalian dari mereka. Apapun yang mereka lakukan sama sekali tidaklah termasuk hal yang benar."

8. Mereka pun menisbahkan kepada Ash-Shadiq juga, katanya: "Demi Allah, tidak ada sedikit pun kebenaran yang masih tinggal ditangan mereka (umat Islam). Yang tersisa pada mereka hanyalah menghadap Ka'bah." (Al Fushulul Muhimmah fii Ushulil Aimmah, karya al-Khural-Amili, halaman 225/425).

Mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka dan ‎tidak membenarkan kepercayaan mereka yang sesat itu dan tidak tunduk kepada mereka sekalipun itu para Nabi dan para Rasul, silahkan mengikuti apa yang mereka katakan :

1. Dari Abi Abdillah : Telah diperintahkan kepada manusia untuk mengenal kami (para Imam) dan berpaling kepada kami dan menyerah kepada kami; dan sekalipun mereka (manusia itu) puasa dan bersyahadat bahwasannya tiada Tuhan selain Allah, tetapi mereka tidak yakin untuk berpaling kepada kami (para Imam) maka dengan demikian mereka menjadi musyrik.(Wasailus Syi'ah 18 hlm.46).

2. Dan ia berkata: Demi Allah sekalipun dia sujud sampai patah lehernya, Allah tidak akan menerimanya terkecuali berserah diri kepada kami Ahlilbait. (Ibnu Babawaih, Alkhisal I hlm.41).

3. Dari Abi Ja'far : Barangsiapa mengangkat bersama imam Ali siapapun, maka musyriklah dia. (Alkafi I, hlm.437).

4. Dari abi Abdillah : Barangsiapa mengingkari Imam-imam, sama dengan mengingkari Allah dan mengingkari Rasul-Nya. (Alkafi I, hlm.181 - 187).

5. Dari Abil Hasan a.s., ia berkata : Kewalian Ali a.s. tertulis di semua shuhuf para Nabi, dan Allah tidak akan mengutus seseorang Rasul terkecuali dengan Nubuwat Muhammad saw. dan Washiny (Ali r.a.) (Alkafi I. hlm 437).

6. Telah berkata Amirul Mu'minin (Ali bin Abi Thalib r.a) sesungguhnya Allah telah menawarkan Walayahku (sumpah setia kepadaku) kepada semua penghuni langit dan bumi, maka ada yang mengakuinya dan ada yang tidak, termasuk Nabi Yunus yang tidak mengakuinya, maka karena itu Allah penjarakan dia (Nabi Yunus) dalam perut ikan, sampai dia mengakui sumpah setia itu. (Bashairuddarajat ed.2.bab 10).

7. Dari Abi Ja'far, ia berkata : Demi Allah, sesungguhnya di langit ada 70 jenis malaikat, sekiranya penghuni bumi berkumpul untuk menghitung bilangan satu jenis saja dari malaikat itu, niscaya seluruh manusia itu tidak mampu menghitung jumlah bilangannya; sesungguhnya semua malaikat itu bersumpah setia kepada kami (para Imam). (Bashairuddarajat ed.2, bab.6).

Selanjutnya kami sajikan apa yang dikatakan dan menjadi kepercayaan wakil Imam mereka yang gaib, Ayatullah Ruhullah Alkhumaini, terhadap para Sahabat Nabi S.A.W., Al Qur'anul Karim dan terhadap Imam- imam ahlilbait sebagai berikut :

1. Mereka (para sahabat Nabi) yang tiada lain terkecuali dunia yang mereka cari dan haus kekuasaan yang menjadi incaran mereka dan bukanlah Al Qur'an semata-mata sebagai alat untuk mewujudkan niat-niat mereka yang buruk dan dengan mudah membuat mereka membuang ayat-ayat itu dari Al Qur'an dan juga membuat mereka mengubah-ubah dan mensirnakannya, sehingga kehinaan terhadap Al Qur'an dan kaum Muslimin dapat berkelanjutan sampai Hari Kiamat. Tuduhan (perubahan kitab Taurat dan Injil) yang mereka (kaum Muslimin) tuduhkan kepada Yahudi dan Nasrani, sesungguhnya telah menjadi satu ketetapan atas mereka (kaum Muslimin) sendiri. (Kasyful Asrar, Al-Khumaini, hlm 114).

Demikianlah, dengan tegas Khumaini menyatakan kepercayaannya, bahwa sahabat-sahabat Nabi itu durhaka dan jahat, yang bertujuan hanya mencari dunia dan haus kekuasaan serta mengubah-ubah Al Qur'an dan membuang banyak ayatnya, yang berakibat hilangnya Qur'an yang asli untuk selama-lamanya; malah Khumaini membela Yahudi dan Nashara dan mengatakan, justru bukan Taurat dan Injil yang telah berubah, tetapi justru Al Qur'an yang diubah oleh para Sahabat Nabi, demikianlah ocehan-ocehan Al Khumaini, Ayatullah, Ruhullah.

Sesudah meyaksikan tulisannya, adakah sesuatu keraguan lagi bahwa apa yang dikatakan alkhumaini itu adalah "kesesatan dan kekafiran yang nyata ?".

Dan selanjutnya dia tidak segan-segan menuduh Rasulullah dengan tuduhan sebagai berikut :

2. Dan telah menjadi nyata, sekiranya Nabi benar-benar menyampaikan perintah mengenai "IMAMAH" sesuai dengan apa yang Allah perintahkan dan berdaya upaya untuk hal itu, niscaya tidak akan timbul di negeri-negeri Islam semua perselisihan, pertengkaran dan peperangan itu, dan tidak akan timbul pertentangan dalam pokok agama maupun cabangnya. (Kasyful Asrar, hlm.155).

Selanjutnya dia berani berdusta atas nama Allah dengan berkata :

3. Dengan Imamah-lah agama menjadi lengkap dan missi menjadi sempurna. (Kasyful Asrar, hlm.145).

Padahal Allah berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Artinya :

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu." (Al-Maidah, ayat 3).

Berikut ini adalah kepercayaan AI Khumaini terhadap imam- imamnya, ia dewa-dewakan, padahal imam-imam itu bersih dari kepercayaan dan anggapan seperti itu.

4. Sesungguhnya imam-imam mempunyai kedudukan yang mulia dan derajat yang agung dan kekuasaan alamiah dimana semua unsur alam itu tunduk kepada imam-imam itu, dan telah menjadi ketetapan dalam aliran kami (aliran Syi'ah) bahwasanya imam-imam kami itu mempunyai kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh Malaikat yang terdekat (dengan Allah) maupun rasul yang agung saw. dan imam-imam as. sebelum adanya alam ini, mereka adalah cahaya-cahaya yang Allah jadikan mengitari Arsy-Nya, dimana mereka diberi derajat dan keistimewaan yang hanya Allah saja yang tahu (hebatnya), dan telah diriwayatkan dari mereka as. : sesungguhnya kami (para Imam) dihimpun dalam beberapa suasana bersama Allah yang tidak dapat diisi oleh Malaikat yang terdekatpun, maupun oleh Nabi yang diutus; derajat semacam ini pun dimiliki oleh Fatimah Azzahra a.s. (Alhukumah Alislamiyah hlm. 52).

Kecerobohan dan omong kosong inilah yang menjadi aqidah dan kepercayaan Wakil Imam mereka yang ghaib Ayatullah Ruhullah Alkhumaini. Padahal unsur-unsur alam tidak akan tunduk kepada siapa saja terkecuali kepada ALLAH KHALIKNYA.

Kepercayaan mereka terhadap tiap pemerintahan yang bukan dari dua belas Imam mereka, maka pemerintahan itu adalah bathil.

Ini adalah dasar itiqad mereka dalam beriman dengan Imam kedua belas mereka, dasar ini telah diriwayatkan oleh Imam mereka Abi Ja'far Muhammad Albagir : Tiap panji yang ditegakan sebelum panjinya Alqaim (imam mereka yang gaib) a.s., maka penegaknya adalah Thoghut (Syaitan, Dholim, Pendurhaka) (Alkafi dan syarahnya oleh Almazandrani 12/371 dan Bihar Alanwar oleh Almajlisi 25/113 dan Alghaibat oleh Annu'mani hal. 56-57 dan banyak lagi).

Perhatikan lagi apa yang dikatakan terhadap ketiga khalifah. Abubakar, Umar dan Utsman, oleh ulama mereka yang bernama Almajlisi dalam kitabnya Bihar Alanwar 4/385 ; yang mana kitab tersebut adalah diantara kitab-kitab rujukan mereka ;

" Mereka itu adalah perampas kekuasaan (dari Ali), dholim, murtad dari agama, la'nat Allah atas mereka dan atas siapa saja yang mengikuti mereka mendholimi Ahlilbait yang terdahulu maupun yang terkemudian (naudzubillah dari kedengkian Syiah dan nastagfirullah dari menukil tulisan mereka ini).

Puluhan kalau bukan ratusan yang mereka sebut "Hadits" dalam kitab-kitab rujukan mereka yang mengkafirkan tiap pemerintahan dan tiap orang yang tidak sumpah setia kepada imam-imam mereka itu ; dan karena ummat Islam membaiat khalifah Abubakar, Umar dan Utsman, maka menurut Syiah, mereka semuanya murtad, kafir dan pantas kekal dalam neraka. Yang mereka katakan hadits-hadits ini dengan jelas dan nyata dapat dibaca dalam kitab-kitab rujukan agama mereka yang merupakan aqidah dan kepercayaan Syiah, malah mereka menetapkan; barang siapa yang meragukan itu, adalah kafir juga. (lihat I'tiqadat, Ibnu Babawaih Alqummi 1/111-114 dari Bihar Alanwar 27/62), dan ratusan lagi semakna ini yang berjejal di kitab-kitab rujukan agama mereka.

Selanjutnya perhatikan apa yang dikatakan jempolan ulama mereka yang bernama "Almufid" : Syiah Imamiyah telah sepakat, bahwa barang siapa mengingkari imamah dari salah satu imam diantara dua belas imam dan menolak kewajiban tunduk sumpah setia kepadanya, maka dia itu adalah kafir, sesat dan wajib kekal dalam neraka (Almasail, dari Biharulanwar 8 hal. 366).

Malah sebagian riwayat-riwayat mereka yang mereka sebut hadits menganggap selain orang Syiah, adalah anak-anak zina, kera dan babi (waliyadzubillah dari kekejian Syiah). Tulisan mereka ini terdapat dalam kitab rujukan agama mereka "Alwafi" 8/222 dan Biharulanwar 68/118).

Mereka berkata demikian karena buat mereka, imamah itu adalah rukun diantara pokok-pokok agama mereka, malah rukun yang paling utama dan penting diantara yang lain (Alkafi 2/18, Assyafi 5/28).

AQIDAH ATTAQIYAH

 

Mereka berkata dalam apa yang mereka katakan Hadits : dari Abi Abdillah (Ja'far Assodiq) : Sesungguhnya sembilan persepuluh agama (Syiah) adalah dalam Bertaqiyyah, dan tidaklah beragama barang siapa tidak bertaqiyyah (Alkafi 2/217).

Dari Abi Abdillah : Sesungguhnya kamu memeluk agama barang siapa merahasia-kannya, dimulyakan dia oleh Allah, dan barang siapa menyiarkannya dihinakan dia oleh Allah (Alkafi 2/222).

Mereka juga menisbahkan kepada Ja'far Assodiq, kalau ia berkata "Taqiyyah itu adalah agamaku dan agama leluhurku" (Alkafi 2/224).

Begitu juga dinisbahkan kepadanya : Barang siapa menyiarkan Hadits kami, Allah mencabut iman dari padanya (Alkafi 2/370). Dan ratusan lagi cerita Taqiyyah ini di kitab-kitab agama mereka.

Arti Taqiyyah adalah : Menyembunyikan kebenaran dan berpura dengan sebaliknya, (periksa Biharulanwar 25/351). Tentu sifat ini tidak berbeda dengan munafiq dan itulah rahasia mereka tidak mau menyebarluaskan apa yang tertulis dalam induk rujukan mereka, karena untuk mereka sembilan persepuluh agama mereka adalah taqiyyah dan berpura-pura. Untuk taqiyyah ini saja perlu menulis satu buku yang tebal untuk menunjukan liku-liku mereka soal taqiyyah ini.

AQIDAH ARRAJAH

 

Pengertian Arrajah, ialah : Kembali hidup sesudah mati ke dunia ini sebelum hari kiamat (lihat Almufid, Awail Almaqalat hal. 51) dan Alhurrul Arai, Alyqdha Minal Haja'h Bil Burhan Alarrajah, hal. 29).

Dan maksud mereka dari adanya rajah itu ialah, datangnya Imam mereka yang gaib, dan membangkitkan musuh-musuh Syiah dari kubur mereka yang terdahulu maupun yang terkemudian, terutama Abubakar, Umar dan pengikut-pengikutnya dan megadakan pembalasan dengan menghukum dan memenggal leher mereka serta mensalib mereka (lihat Alirsyad karangan ulama Syiah Almufid hal. 411).

Berkata Alhurrulamili : Rajah itu adalah kelaziman mazhab (agama) Imamiyah (Alhurrulamili; Alyaqdha Minalhajah hal. 33) dan seluruh Syiah Imamiyah berijma' (sepakat) adanya Rajah (Await Almaqalat hal. 51).

Dalam riwayat-riwayat mereka yang mereka namakan Hadits : Bukanlah dari golongan kami barang siapa tidak beriman dengan pengembalian kami (Rajah) (Man La Yandurul Faqih 2/128).

Berkata Almufid : Syiah Imamiyah sepakat tentang kewajiban kembalinya banyak orang yang telah mati ke dunia (Awail Almaqalat 51).

Dan menurut ulama mereka telah menjadi aklamasi antara mereka (Syiah Imamiyah) tentang adanya Rajah itu dan terdapat dalam lebih dari 50 buku-buku rujukan agama mereka, dan riwayat-riwayatnya lebih dad 200 hadits (periksa, Haqulyaqin 2/2 dan Aqaid Alitsna Asyariyah hal. 239 dan Assyiah Warrajah hal. 14 dan Adzariah Hurf Raa). Aqidah yang terang-terangan bertolak belakang dan meyalahi Al Qur'an, tetapi bagaimana mereka mengindahkan Al Qur'an sedangkan mereka percaya adanya Al Qur'an yang lain yang ada di Imam mereka yang gaib yang sedang mereka tunggu--tunggu kedatangannya.

AQIDAH ALBADA'

Albada' dalam kamus mempunyai 2 arti,

1. Menampak dan terbuka

2. Timbulnya pendapat yang baru

Kedua arti ini wurud dalam Al Qur'an di ayat 284 dari Surah Al-Baqarah dan ayat 35 dari Surah Yusuf.

Tentu Albada' dengan kedua arti ini tidak patut dinisbahkan kepada Allah Ta'ala.

Albada' pada asalnya adalah aqidah Yahudi sesat terdapat dalam Taurat yang sudah mereka robah menurut selera Padri-padri Yahudi. Nash-nash yang menisbahkan Albada' kepada Allah Subhanahu Wataala, kemudian berpindah itiqad Albada' ini, mulanya kepada sekte-sekte Syiah Sabaiyah, mereka berkata dan beritiqad dengan Albada' (periksa Almaqalat Walfiraq hal. 78 oleh Saad Alqummi), dan Firaq Assyiah hal. 55-56 oleh Annubakhti).

Adapaun mengenai Albada' ini, setelah Imam-imam Syiah oleh massa Syiah didudukkan seperti kedudukan Nabi pada pengikutnya, menganggap diri Imam-imam itu menguasai ilmu yang terjadi dan yang akan terjadi, dan khabaran apa yang terjadi esok, dimana Imam-imam itu berkata kepada Syiah mereka, akan terjadi dihari esok ini dan itu, maka bila yang dikatakan itu, secara kebetulan terjadi, mereka berkata, bukankah kami sudah memberitahukan kamu bahwa itu terjadi ?, karena kami diberitahu Allah, seperti para Nabi, dan antara kami dan Allah terdapat sebab-sebab seperti yang memungkinkan para Nabi mengetahui dari Allah. Tetapi kalau apa yang mereka katakan kepada Syiah mereka itu terjadi, kemudian tidak terjadi, maka mereka berkata : Bada' Lillahi Fizalika, Allah merubah rencana soal itu (Almaqalat wal Firaq 78, Firaq Assyiah hal. 55-56).

Aqidah Albada' ini adalah tipu daya Yahudi, yang dibawa oleh Ibnu Saba' pada mulanya Agama Syiah, dimana kitab-kitab rujukan mereka penuh dengan dusta dan tipu daya itu yang dinisbahkan kepada Allah Ta'ala, riwayat-riwayat bada' itu dikatakan dari Imam-imam mereka. (Periksa, Alkafi Bab Albada' I hal. 146-149, Biharulanwar 4/92-129) di Kitab Biharilanwar saja dari ulama top mereka yang bernama Almajlisi, terdapat 70 Hadits mengenai Albada' Wannaskh).

Dimana dengan Aqidah Albada' itu, mereka menisbahkan kejahilan dan kelupaan kepada Allah, Maha Suci Allah atas tuduhan dan kedzhaliman mereka itu.

Maksud mereka dengan Albada', adalah pada satu ketika Allah merencanakan sesuatu, kemudian rencana itu dilihat oleh-Nya tidak tepat, lalu dirubahnya. Demikian pengertian dari Albada' yang kitab-kitab rujukan mereka berjejal denganya; Aqidah mana adalah kekufuran yang nyata, karena menisbahkan kekurangan dan kealpaan kepada Allah Yang Maha Sempurna.

ALGHAIBAH

Alghaibah, ..... merupakan diantara Aqidah-aqidah yang utama dikalangan (Syiah) Imamiyah, (tersebut dalam kitab "Tarikh Alimamiyah hal.165). Karena Syiah percaya; bahwa dunia tidak boleh kosong sejenak dari seorang Imam, dan sekiranya dunia kosong dari seorang Imam niscaya melelehlah dia (Alkafi I/179 - Biharulanwar 23/29).

"Dan sekiranya Imam diangkat sejenak dari bumi, niscaya bumi itu goncang dengan penghuninya, seperti guncangnya laut (Alkafi I/179)".

Dan untuk Syiah Al Qur'an itupun, bukan sesuatu yang berarti tanpa Imam Alqayyim (Imam yang gaib). "Karena Al Qur'an bukanlah hujjah, terkecuali dengan Qayyim" (Alkafi I/188). Alqayyim, itu adalah Imam mereka yang ke dua belas; Imam mereka yang ke sebelas yang bernama Hasan Alaskari telah meninggal dunia tahun 260 H, (periksa Kitab Alghaibah hal 258) tanpa mempunyai keturunan seperti apa yang tersebut dalam buku-buku sejarah, dan diakui oleh kitab-kitab Syiah seperti berikut : Tidak terlihat baginya keturunan dan tidak diketahui adanya anak baginya secara dhahir, oleh sebab itu harta warisannya diwaris oleh saudaranya Ja'far dan ibunya : (Almaqalat Walfiraq hal,102 oleh Alqummi).

Kaum Syiah dikala itu menjadi geger, ribut dan heran dengan matinya Imam mereka Hasan Alaskari tanpa mempunyai anak, yang membuat mereka terpecah dalam 15 kelompok dan ada yang mengatakan 20 kelompok, sampai diantara mereka ada yang berkata Imamah telah terputus (periksa Almaqalat Walfiraq hal. 108 dan Alghaibah hal, 135) dan hampir dengan kematian Imam mereka Hasan Alaskari tanpa keturunan, menjadi kematian Syiah juga karena telah jatuh tonggaknya, yaitu "Imam".

Tetapi rekayasa "Kegaiban Imam" menjadi landasan struktur Syiah setelah perpecahan itu yang menahan bangunan itu dari keruntuhan, oleh sebab itu, beriman dengan gaibnya (sembunyinya) seorang anak bagi Hasan Alaskari merupakan landasan perpijak dan poros berputarnya kepercayaan mereka dimana tidak ada tempat berpijak lagi bagi mereka selain percaya kepada itu. Panjang sekali, sekiranya kita membicarakan dongeng ghaibah ini, dongeng rekayasa yang penuh dengan kontradiksi, faham yang sulit dicerna oleh orang yang menghargai martabatnya sebagai insan yang berpikir, sungguh terheran--heran, masih adanya manusia yang percaya kepada dongeng itu,

Mengenai kesimpang siuran mereka soal "Alghaibah" ini; periksalah kitab-kitab mereka : (Alghaibah hal. 214, 258, Biharulanwar 25/123, Alirsyad hal. 345, Alkafi I/181,333, Kasyfalghitha hal. 13, Tanqihul Maqal I/189 dan banyak, banyak lagi).

Dan apa yang menghalangi Imam itu untuk muncul; daripada mengasingkan diri dalam gua di Samira, setidaknya dikala Syiahnya dihajar tanpa ampun oleh Saddam Husin. Inilah sekedar nukilan dari itiqad dan kepercayaan mereka yang bertolak belakang dengan itiqad kaum Muslimin dalam ushul Agama maupun Furu'nya, yang terang-terangan bertolak belakang dengan agama yang dibawa Rasulullah S.A.W. Al-Islam yang Allah ridlai.

Untuk lebih mendalami masalah Syiah ini dan intrik-intriknya, periksalah Kitab "Masalatuttaqrib Bayna Ahlissunnah Wassyiah" oleh Dr. Nasir Algifari. Sesungguhnya, menulis dan menukil kekejian mereka ini, rasanya menyayat hati dan membebani pikiran, tetapi apa yang hendak dibuat, mengingat masih ada saja diantara anak adam yang masih percaya dan terkecoh dengan tipu muslihat mereka, padahal Allah telah memperingatkan dengan Firman-Nya :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا....

Artinya :

"Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).....

Tetapi kalau orang tidak juga memperdulikan peringatan tersebut maka Allah memvonis mereka dengan kelanjutan Firman-Nya :

أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang ghafil (lalai).... (Q.S. Al-A'raf 179).

Hasbunallah Wani'malwakil

Wabillahittaufiq Walhidayah

Muhammad Omar Ba'abdullah