Your browser (Internet Explorer 7 or lower) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.

X

Sunni Syiah Dalam Diskusi Aqidah Bag 4

(107) Mengapa kaum syiah memberikan derajat ma’shum kepada Fatimah r.a., tapi mereka tidak memberikan derajat ke-ma’shum-an tersebut kepada dua saudarinya: Ruqoyyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a.??! Padahal kita tahu keduanya juga darah daging Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- seperti Fatimah r.a.!!

(108) Jika dikatakan kepada syiah: Mengapa Ali r.a. tidak menuntut haknya untuk menjadi kholifah setelah wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, padahal sebagaimana anggapan mereka hal tersebut jelas termaktub dalam wasiat beliau??!

Mereka menjawab: karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga mewasiatkan agar ia tidak menyulut fitnah (kericuhan) dan menghunuskan pedangnya sepeninggal beliau.

Kita katakan: Lalu mengapa ia menghunuskan pedangnya ketika perang Jamal dan perang Shiffin, sehingga menyebabkan ribuan orang gugur di dalamnya??! Siapakah sebenarnya yang lebih berhak ditumpas, orang dholim yang pertama, ataukah yang keempat, atau yang kesepuluh… dst??!

(109) Kaum syiah tidak mampu menyebutkan perbedaan yang jelas antara nabi dan imam, sampai-sampai syeikh mereka al-Majlisiy mengatakan: “Kami tidak tahu apa sebabnya para imam tidak mendapat julukan nabi, kecuali untuk menjaga agar Rosul -shollallohu alaihi wasallam- tetap sebagai penutup para nabi, dan pikiran kami tidak bisa menalar adanya perbedaan antara derajat kenabian dengan ke-imamah-an”!![1]

Pertanyaannya: Lantas apa pentingnya konsep akidah penutup kenabian, jika ternyata tugas dan keistimewaan yang hanya dimiliki oleh para nabi, -seperti ke-ma’shum-an, wahyu, mukjizat dan yang lainnya-, tidak terputus dengan wafatnya sang penutup kenabian Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-??! Akan tetapi ia terus ada hingga 12 imam mereka!!!

(110) Kaum syiah beranggapan bahwa diantara dalil wajibnya ke-khilafah-an Ali r.a. adalah sabda beliau: “Kedudukanmu (Ali) di sisiku (Nabi -shollallohu alaihi wasallam-), sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Seandainya prasangka mereka benar, seharusnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memilihnya sebagai pengganti pada setiap peperangan yang tidak ia ikuti, bukan malah memilih orang lain. Kita tentunya tahu bahwa beliau juga pernah menyuruh Utsman r.a. dan Abdulloh bin Ummu Maktum r.a. sebagai pengganti beliau di Madinah ketika berangkat perang. Jika demikian, mengapa derajat imamah itu hanya mereka khususkan untuk Ali r.a.??!!

(111) Kaum syiah beranggapan, bahwa wajibnya mengangkat para imam, itu kembali kepada kaidah “kelemah-lembutan”. Tapi sungguh mengherankan, imamnya yang ke-12 malah menghilang ketika masih kecil dan sampai sekarang tidak diketahui rimbanya! Lantas kelemah-lembutan apa yang diperoleh oleh kaum muslimin dari pengangkatan imam ke-12 ini??!

(112) Kaum syiah berkeyakinan bahwa diutusnya para rosul dan diangkatnya para imam adalah kewajiban Allah, karena konsep “kelemah-lembutan”. Dan kita telah dapati Allah telah mengutus para rosul, lalu menguatkannya dengan mukjizat dan memusnahkan mereka yang mendustakannya.

Pertanyaannya: Apa bukti bantuan kekuatan Allah kepada para imam itu dan apa bukti bahwa Allah akan murka kepada mereka yang mendustakannya??!

(113) Kaum syiah meyakini bahwa para imam mereka itu ma’shum. Akan tetapi banyak terdapat riwayat yang disepakati bersama, menyelisihi keyakinan mereka itu, diantaranya:

(a) Ketika Hasan r.a. menyelisihi ayahnya dalam keputusannya untuk menyerang mereka yang menuntut darah Utsman r.a. Tidak diragukan lagi, tentunya salah satu dari mereka ada yang salah dan ada yang benar, padahal keduanya adalah imam yang ma’shum!!

(b) Ketika Husain bin Ali r.a. menyelisihi saudaranya Hasan r.a. dalam keputusannya untuk berdamai dengan Muawiyah r.a. Tentunya salah satu diantara mereka ada yang salah dan ada yang benar, padahal keduanya adalah imam yang ma’shum!!

(c) Bahkan sebagian kitab-kitab syiah meriwayatkan dari Ali r.a, ucapannya: “Janganlah kalian enggan untuk mengambil perkataan yang benar, ataupun melakukan musyawarah dengan bijaksana, karena bisa jadi aku terjatuh dalam kesalahan”.[2]

(114) Kaum syiah di masa sekarang ini, banyak mencela ulama ahlus sunnah Negeri Haromain (Mekah dan Madinah), karena fatwa mereka yang membolehkan meminta bantuan kepada orang kafir -jika situasinya darurat- untuk melawan para ba’tsiyyin yang murtad. Tapi di sisi lain kita dapati syeikh mereka dalam kitabnya Muntahat Tholab fi Tahqiqil Madzhab menukil ijma’ (kesepakatan) ulama syiah -kecuali at-Thusiy- tentang bolehnya meminta bantuan kepada orang kafir dzimmiy untuk melawan para pemberontak!! Bukankah ini merupakan kontradiksi yang nyata…?!

(115) Dalam konsep syiah, imamah akan disematkan kepada orang yang mendakwakan dirinya sebagai imam dan memiliki banyak karomah yang menunjukkan kebenaran dakwaannya. Tapi mengapa mereka tidak menyematkan imamah itu kepada Zaid bin Ali padahal ia telah mendakwakannya untuk dirinya, sebaliknya mereka malah menyematkannya kepada imam mahdi mereka yang hilang, padahal ia tidak mendakwakannya, disamping juga ia tidak menunjukkan karomahnya karena ­-sebagaimana keyakinan mereka- ia telah menghilang saat masih kecil??!

(116) Kaum syiah telah memalsu hadits yang bunyinya: “Semoga Allah melaknat orang yang tidak ikut dalam pasukan Usamah”.[3] tujuan mereka memalsu hadits itu adalah untuk melaknat Umar r.a, karena ketidak-ikutannya dalam pasukan itu. Tapi mereka tidak sadar, bahwa hal tersebut juga menjadi bumerang bagi mereka karena dua kemungkinan:

(a) kemungkinan pertama, Ali r.a. ikut dalam pasukan Usamah r.a. Dan ini merupakan bentuk pengakuan Ali r.a. terhadap ke-imamah-an Abu Bakar r.a, mengapa?? Karena ia rela dengan pimpinan yang diangkat oleh Abu Bakar r.a.!

(b) kemungkinan kedua, Ali r.a. tidak ikut dalam pasukan itu. Dan hal ini berarti menjadikan Ali r.a. sebagai korban kebohongan mereka!

(117) Kholifah yang benar setelah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, adalah Abu Bakar as-Shiddiq r.a, diantara dalilnya:

(a) Kesepakatan dan ijma’ para sahabat untuk menaatinya, menjalankan perintah dan larangannya, serta tidak mengingkarinya. Seandainya ia bukan kholifah yang benar, tentunya para sahabat tidak akan membiarkan dan menaatinya. Kita semua tentunya tahu, bagaimana tingkat kezuhudan, kehati-hatian, dan kuatnya agama mereka, serta ketidak-perdulian mereka di jalan Allah dengan celaan orang yang mencela!

(b) Karena Ali r.a. tidak menyelisihinya dan tidak memberontaknya. Keadaan ini tidak luput dari kemungkinan berikut ini:

Bisa jadi Ali r.a. tidak memberontaknya karena takut akan terjadi fitnah dan akibat buruk. Atau bisa jadi Ali r.a. tidak mampu untuk memberontaknya. Atau bisa jadi ia tahu bahwa Abu Bakar r.a. memang berhak menjadi kholifah.

Dan tidak mungkin Ali r.a. tidak memberontak karena takut fitnah atau akibat buruk, karena ia telah memerangi Muawiyah r.a, sehingga banyak umat islam yang gugur dalam peperangan itu. Ia juga memerangi Tholhah r.a. dan Zubair r.a. Ia juga akhirnya memerangi Aisyah r.a. sejak ia tahu bahwa kebenaran berada di pihaknya. Dan ia tidak membiarkan mereka, karena takut terjadi fitnah (akibat buruk).

Ketidak-mampuan Ali r.a. untuk memberontak juga tidak mungkin. Karena orang-orang yang membelanya ketika melawan Muawiyah r.a. juga telah beriman ketika peristiwa as-Saqifah, peristiwa pergantian kholifah ke Umar, dan peristiwa syuro (untuk mengganti Umar). Seandainya mereka tahu bahwa kebenaran ada di pihak Ali r.a, tentunya mereka akan membelanya di hadapan Abu bakar r.a, karena dia lebih berhak diserbu dan diperangi dari pada Muawiyah r.a.

Jadi, dengan ini telah jelas, bahwa Ali r.a. meninggalkan itu semua, karena ia tahu bahwa sesungguhnya kebenaran memang ada di pihak Abu Bakar r.a.!

(118) Kaum syiah mengaku mereka cinta ahlul bait dan keturunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Akan tetapi kita dapati banyak hal yang bertentangan dengan kecintaan itu. Misalnya dengan tindakan mereka mengingkari nasab sebagian keturunan beliau, seperti dua putri beliau Ruqoyyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a.

Mereka juga mengeluarkan al-Abbas dan seluruh keturunannya dari nasab beliau. Begitu pula tindakan mereka terhadap az-Zubair bin Shofiyah r.a, yang masih bibi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

Mereka banyak membenci keturunan Fatimah r.a, bahkan mencelanya, seperti: Zaid bin Ali, dan Anaknya yang bernama Yahya, Ibrohim, dan Ja’far yang masih anak kandung Musa al-Kazhim, dan Ja’far bin Ali yang masih saudara imam mereka Hasan al-Askariy.

Mereka berkeyakinan bahwa Hasan bin Hasan (al-Mutsanna), dan anaknya yang bernama Abdulloh (al-Mahdh), serta anaknya yang bernama Muhammad (an-Nafsuz Zakiyyah), telah murtad, keluar dari Islam.

Mereka juga meyakini hal yang sama (murtad dan kafir) kepada: Ibrohim bin Abdulloh, Zakariya bin Muhammad al-Baqir, Muhammad bin Abdulloh bin Husan bin Hasan, Muhammad bin Qosim bin Husain, Yahya bin Umar… dst.

Lantas dimana kecintaan ahlul bait yang selama ini mereka gembar-gemborkan?!

Salah satu bukti hal diatas adalah ucapan salah seorang dari mereka: “Sesungguhnya keturunan Hasan bin Ali r.a. yang lainnya, itu banyak telah melakukan tindakan yang tercela, yang tidak mungkin dibenarkan walaupun dengan konsep takiyah”[4]

(119) Bahkan lebih parah dari itu semua, ternyata mereka mengkafirkan seluruh ahlul bait yang hidup di masa-masa awal!! Sebagaimana dikatakan dalam banyak riwayat dan sumber tepercaya mereka, bahwa sesungguhnya orang-orang setelah wafatnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, semuanya telah murtad kecuali tiga orang saja: Salman r.a, Abu Dzar r.a, dan al-Miqdad r.a. Sebagian mereka menambah bilangannya menjadi tujuh, tapi tidak satu pun dari mereka yang berasal dari ahlul bait.[5] Dalam riwayat-riwayat itu mereka telah menghukumi semua sahabat dengan murtad dan kafir. -naudzubillah-.

(120) Bahkan mereka nyata-nyata telah mengkafirkan beberapa anggota ahlul bait, seperti al-Abbas r.a. (paman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-), yang mereka katakan bahwa ayat berikut adalah ditujukan kepadanya: “Barangsiapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)” (al-Isro:72).[6]

Di dalam kitab al-Kafi juga terdapat ungkapan yang mengandung pengkafiran terhadap putra Abbas r.a, yakni Abdulloh bin Abbas r.a, yang berjuluk Habrul Ummah (ulama’nya umat islam) dan turjuamanul qur’an (ahli tafsir qur’an). Mereka juga mengatakan bahwa ia (Abdulloh bin Abbas r.a.) adalah orang yang bodoh dan berakal dungu!![7]

Di dalam kitab Rijalul Kasyi dikatakan: “Ya Allah, semoga engkau melaknat dua anak si fulan dan engkau butakan penglihatannya, sebagaimana telah engkau butakan hatinya…”![8] Kemudian syeikh mereka Hasan al-Musthofawiy mengomentarinya dengan mengatakan: “Maksud dari dua anak si fulan adalah Abdulloh bin Abbas dan Ubaidulloh bin Abbas”.[9]

Bahkan putri-putri Nabi shollallohu alaihi wasallam -selain Fatimah r.a.- juga tidak luput dari sasaran kebencian mereka, bahkan sebagian syiah mengingkari bahwa mereka termasuk putri Nabi -shollallohu alaihi wasallam- !![10]

Jika demikian, lalu dimana kecintaan kepada Ahlul Bait??!

(121) Ketika masa kekholifahan Abu Bakar r.a, Ali r.a. juga ikut serta dalam memerangi kaum murtaddin, kemudian ia mengambil tawanan wanita dari Bani Hanifah, dan lahir dari wanita ini putranya yang bernama: Muhammad bin Hanafiyah. Fakta ini melazimkan sahnya kekholifahan Abu Bakar r.a, mengapa?? Karena jika tidak, tentunya ia tidak ikut serta dalam kebijakannya itu.

(122) Pendapat-pendapat yang dinukil dari imam mereka Ja’far as-Shodiq, sangat simpang siur dalam banyak permasalahan. Hingga hampir saja tidak ada satu pun masalah fikih, kecuali ada 2 atau 3 pendapatnya yang saling bertentangan.

Misalnya, dalam permasalahan sumur yang kejatuhan najis: Dalam satu riwayat ia mengatakan, sumur itu bagaikan laut yang tidak terpengaruh oleh najis. Dalam riwayat lain ia mengatakan, sumur itu harus dikuras sampai habis airnya. Dalam riwayat lainnya lagi ia mengatakan, sumur itu harus diambil airnya 7 atau 6 ember.

Ketika salah seorang ulama mereka ditanya, tentang solusi dari pertentangan ini, ia mengatakan: “Seorang mujtahid boleh me-rojih-kan (menguatkan) dan memilih salah satu dari sekian banyak pendapat ini, sedangkan pendapat yang lainnya, hendaknya ia anggap sebagai takiyah!”.

Ada yang tanya: “Bagaimana jika ada mujtahid yang lain, lalu ia menguatkan pendapat selain pendapat yang dipilih oleh mujtahid pertama, apa sikap dia terhadap pendapat-pendapat yang lain?”

Ia menjawab: “Sama, ia hendaknya mengatakan bahwa pendapat lainnya itu takiyah!”.

Maka kita katakan: kalau begitu, berarti hilanglah sudah madzhabnya Ja’far as-Shodiq, mengapa?? Karena tidak ada satu masalah pun yang disandarkan kepadanya, melainkan ada kemungkinan itu merupakan takiyah, karena tidak ada yang barometer pembeda antara mana yang takiyah dan mana yang bukan takiyah!!

(123) Kitab-kitab hadits yang menjadi sandaran kaum syiah diantaranya: al-Wasa’il karangan al-Hurrul Amiliy (meninggal 1104 H), al-Bihar karangan al-Majlisiy (meninggal 1111 H), dan Mustadrokul Wasa’il karangan at-Thobrosiy (meninggal 1320). Semua kitab hadits ini dikarang belakangan!

Apabila mereka itu mengumpulkan hadits-hadits tersebut dari sanad dan riwayat, bagaimana orang yang berakal mau percaya dengan riwayat yang belum pernah dicatat sejak 11 sampai 13 abad lamanya??!

Apabila hadits-hadits tersebut sudah terbukukan sebelumnya, mengapa kitab-kitab tersebut baru ditemukan pada masa yang sangat akhir ini??! Mengapa ulama-ulama pendahulu mereka tidak mengumpulkannya??! Mengapa kitab-kitab tersebut tidak termaktub dalam kitab-kitab klasik mereka??!

(124) Ada banyak riwayat dan hadits dari ahlul bait dalam kitab-kitab syiah, yang kandungannya sama dengan ajaran ahlus sunnah, baik dalam hal akidah, ingkar bid’ah, dll. Akan tetapi ulama syiah mengalihkan makna eksplisitnya, karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan dalih bahwa itu adalah takiyah.

(125) Penulis kitab Nahjul Balaghoh menukil pujian Ali r.a. terhadap Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, misalnya: “Telah pergi orang yang bersih pakaiannya dan sedikit aibnya, orang yang berhasil meraih kebaikannya, dan telah lalu keburukannya, orang yang menunaikan ketaatannya kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya dengan sepantasnya”.[11]

Maka kaum syiah pun bingung, dengan pujian yang menyelisihi keyakinan mereka dalam mencela sahabat ini, sehingga mereka memaknainya sebagai takiyah!!

Yakni bahwa Ali r.a. mengatakan hal itu, untuk menjaga perasaan dan menarik simpati orang yang loyal dengan kekholifahan Abu Bakar r.a, yakni Ali r.a. ingin menipu para sahabat lainnya!

Ini mengharuskan mereka mengatakan bahwa Ali r.a. itu seorang yang munafik dan pengecut, orang yang menampakkan sesuatu yang tidak ada dalam hatinya. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang ada dalam riwayat-riwayat mereka, yang mengatakan bahwa Ali r.a. adalah orang pemberani dan selalu menyerukan kebenaran…!!

(126) Sebagaimana kita tahu, kaum syiah meyakini ke-ma’shum-an imam mereka. Dan ini sangat menyulitkan mereka menghadapi banyaknya riwayat yang menjelaskan bahwa mereka juga seperti manusia biasa, yang mungkin saja lupa dan salah…, sampai-sampai seorang ulama syiah al-Majlisiy mengatakan bahwa: “Hal ini, sungguh sangat musykil (bermasalah), karena banyaknya riwayat dan ayat yang menyatakan kemungkinan timbulnya lupa dari mereka…”.[12]

(127) Imam syiah yang ke-11 (Hasan al-Askariy) telah meninggal dan tidak memiliki anak, dan agar konsep pokok madzhab imamiy tidak runtuh, seorang yang bernama Utsman bin Said mendakwakan bahwa al-Askariy ini mempunyai anak yang menghilang ketika umurnya empat tahun, dan ia menjadi wakilnya anak tersebut.

Maka sungguh mengherankan kaum syiah ini! Mengaku tidak akan menerima kecuali perkataan orang yang ma’shum, tapi dalam masalah akidah yang paling penting ini mereka malah menerima ucapan seorang laki-laki yang tidak ma’shum.!!!

(128) Kaum syiah menghujat dan melekatkan segala keburukan kepada Marwan bin Hakam, tapi lagi-lagi mereka sangat kontradiktif dengan meriwayatkan dalam kitab-kitab mereka bahwa Hasan r.a. dan Husein r.a. dulu sholat menjadi makmumnya.[13]

Yang sungguh mengherankan, ternyata Mu’awiyah putra Marwan bin Hakam ini telah menikahi Romlah putrinya Ali r.a, sebagaimana dinyatakan oleh para ahli nasab.!![14]

Begitu pula Zainab putri Hasan al-Mutsanna, ternyata dinikahkan dengan cucunya Marwan yang bernama: Walid bin Abdul Malik,[15] ia juga menikahi Nafisah, putrinya Zaid bin Hasan bin Ali.[16]

(129) Kaum syiah mengaku tidak boleh menjadi imam kecuali yang sudah baligh.[17] Kemudian mereka meruntuhkan sendiri rumusan tersebut dengan pengakuan mereka terhadap ke-imamah-an Muhammad bin Ali, yang berjuluk al-Jawad (sang dermawan), yang ketika kematian ayahnya (Ali ar-Ridho) belum mencapai umur baligh.

(130) Kaum syiah mengklaim -dalam banyak kisah tentang imam mahdi mereka yang menghilang- bahwa ketika ia dilahirkan “Ada banyak burung turun dari langit, burung-burung itu mengusapkan sayapnya ke kepala, wajah, dan seluruh badan Mahdi kecil ini, kemudian terbang kembali. Ketika ayahnya ditanya tentang hal itu, ia tersenyum dan mengatakan: “Mereka itu malaikat dari langit, turun untuk ber-tabarruk dengan bayi yang lahir ini, mereka akan menjadi pembelanya ketika ia keluar nanti”.!![18]

Pertanyaannya: Lalu untuk apa ia takut-takut lagi dan sembunyi dalam Sirdab-nya??!

(131) Kaum syiah mengklaim bahwa imam itu harus termaktub ke-imamah-annya.

Seandainya itu benar, tentunya kita tidak akan menemukan banyaknya perselisihan tentang para imam mereka. Mengapa setiap sempalan syiah mengklaim bahwa imam merekalah yang termaktub dalam nash??!

Misalnya kelompok syiah al-Kaisaniyyah, mereka mengklaim bahwa yang menjadi imam setelah Ali r.a. adalah anaknya yang bernama Muhammad bin Hanafiyyah….

(132) Sesungguhnya dengan meyakini bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah penutup para nabi dan rosul, akan terpenuhi juga maksud akidah imamah, baik ketika beliau masih hidup, maupun setelah beliau wafat.

Barangsiapa mengakui bahwa Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- adalah utusan Allah, taat kepada beliau itu wajib, dan ia berusaha semampunya untuk menaatinya. Seandainya orang seperti ini dikatakan masuk surga, maka ia tidak butuh lagi dengan masalah imamah, dan tidak wajib baginya kecuali taat kepada Rosul -shollallohu alaihi wasallam-.

Seandainya orang seperti ini, dikatakan tidak akan masuk surga kecuali setelah ia menaati para imam, maka (perkataan) ini jelas menyelisihi ayat-ayat Alqur’an. Karena Allah ta’ala dalam beberapa ayat Alqur’an, telah mewajibkan masuk surga bagi mereka yang menaati Allah dan Rosul-Nya. Allah tidak mensyaratkan masuk surga dengan menaati atau mengimani seorang imam pun, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa mentaati Allah dan Rosul-Nya, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang sholih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (an-Nisa: 69). Begitu pula firman-Nya: “Barangsiapa taat kepada Allah dan Rosul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka akan kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung”. (an-Nisa’: 13)

Seandainya imamah itu pokok keimanan, atau kekufuran, atau rukun agama yang paling agung, dan Allah tidak akan menerima amalan hamba-Nya kecuali dengannya -sebagaimana dikatakan oleh syiah-, maka tentunya Allah akan menyebutkan dan menegaskan imamah dalam ayat-ayat itu, karena pengetahuan Allah akan terjadinya perselisihan setelah itu.

Saya tidak mengira akan ada orang yang mengatakan, bahwa sebenarnya imamah itu masuk dalam ayat-ayat tersebut, karena ia termasuk bentuk taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Mengapa? Karena itu merupakan penafsiran yang terlalu jauh dan dibuat-buat.

Bahkan cukup untuk membantahnya dengan kita katakan, bahwa sebenarnya taat Rosul juga merupakan bentuk ketaatan kepada Tuhan yang mengutusnya. Di ayat-ayat itu, Allah tidak hanya menyebutkan taat kepada-Nya saja dan menjadikan taat Rosul masuk dalam ketaatan kepada-Nya, tetapi Dia menyebutkan dua-duanya. Tujuannya adalah untuk menegaskan adanya dua rukun yang sangat penting dalam akidah Islam, yakni: Taat kepada Allah dan taat kepada Rosul-Nya.

Disebutnya taat kepada Rosul setelah taat kepada Allah sebagai syarat masuk surga, adalah karena Rosul -shollallohu alaihi wasallam- itu penyampai syariat dari Allah, juga karena dengan menaatinya, berarti sama dengan menaati Dzat yang mengutusnya.

Karena tidak ada lagi penyampai syariat dari Allah setelah wafatnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, maka Allah menjadikan keberuntungan dan kemenangan meraih surga dengan taat kepada Rosul-Nya dan menekuni perintahnya dan meninggalkan perintah dari selainnya.

(133) Kaum syiah meyakini bahwa semua ilmu tersimpan dalam pengetahuan para imam mereka, para imam itu juga yang mewarisi banyak kitab dan ilmu yang tidak diwarisi oleh selain mereka. Mereka memiliki shohifatul jami’ah, kitab Ali, al-Abithoh, Diwan syiah, al-Jufr. Di dalam kitab-kitab ini terdapat apapun yang dibutuhkan oleh manusia.

Yang mengherankan, ternyata shohifah-shohifah yang disebutkan oleh kaum syiah ini tidak pernah ada dalam kenyataan. Seandainya satu saja dari sekian banyak kitab itu ada, tentunya sejarah mereka akan berubah, para imam mereka tidak akan kesulitan menemukan hukum permasalahan, dan tidak terjadi banyak musibah yang silih berganti menimpa imam mereka, sehingga ada yang terbunuh dan adapula yang diracun.!!

Jika satu saja dari kitab itu nyata, tentunya imam mereka yang terakhir tidak akan bersembunyi di sirdab-nya, karena takut pembunuhan.!!

(134) Kita katakan juga, Kemana kitab-kitab itu sekarang??!

Lalu apa yang ditunggu oleh imam mahdi mereka untuk keluar??!

Apakah umat manusia membutuhkannya dalam urusan agama mereka??!

Jika mereka butuh, mengapa umat ini dibiarkan jauh dari sumber petunjuknya, sejak ia bersembunyi di sirdabnya, yakni sejak lebih dari 11 abad lamanya??! Apa dosa generasi-generasi ini sehingga tidak boleh mendapatkan kitab yang sangat bernilai itu??!

Jika mereka tidak membutuhkannya, lantas apa gunanya klaim-klaim seperti ini??! Mengapa pula kaum syiah dijauhkan dari sumber hidayahnya yang hakiki, yakni Alqur’an dan Assunnah??!

(135) Kaum syiah menyebutkan dalam kitab-kitab mereka, bahwa keluarnya Husain r.a. ke Kufah, lalu ternyata ia di sana dianiaya dan dibunuh, adalah penyebab murtadnya seluruh umat islam kecuali tiga orang.

Pertanyaannya: Kalau ia tahu apa yang terjadi di masa depan, bukankah seharusnya ia mengurungkan niatnya??!

(136) Kaum syiah mengatakan bahwa sebab bersembunyinya imam mereka yang ke-12 adalah karena takut dibunuh.

Kita katakan: Lalu mengapa imam-imam sebelumnya tidak dibunuh, padahal mereka hidup ditengah-tengah khilafah ketika usia dewasa?! Kalau mereka saja yang dewasa tidak dibunuh, bagaimana mungkin orang yang masih kecil hendak dibunuh??!

(137) Kaum syiah mengklaim bahwa mereka hanya bersandar dengan hadits shohih yang datang dari jalan ahlul bait.[19]

Pengakuan ini penuh dengan distorsi dan penipuan, mengapa?? Karena mereka menganggap setiap imam mereka -yang berjumlah 12- itu seperti Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, setiap ucapannya seperti perkataan Allah dan Rosul-Nya. Oleh karena itu, jarang sekali didapati ucapan Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dalam banyak tulisan mereka, karena mereka sudah cukup dengan ucapan para imam mereka.

Tidak benar juga, bahwa mereka bersandar dengan semua hadits yang datang dari jalan ahlul bait, karena ternyata mereka hanya mengambil hadits dari para imam mereka saja. Misalnya mereka tidak mengambil riwayat dari keturunan Hasan r.a…

(138) Kita katakan juga: Kalian mengaku hanya mengambil hadits shohih yang datang dari para imam kalian dari ahlul bait. Padahal sebagaimana diketahui bersama, tidak satupun dari mereka yang sampai pada umur mumayyiz pada zaman Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, kecuali Ali bin Abi Tholib r.a.

Apakah Ali r.a. mampu meriwayatkan semua tuntunan Rosul -shollallohu alaihi wasallam- kepada generasi setelahnya?! Mungkinkah ia melakukannya?! Bukankah kadang Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- meninggalkannya di Madinah, dan kadang mengutusnya ke daerah lain, yang menunjukkan ia tidak selalu bersama beliau?! Bagaimana mungkin Ali r.a. bisa menceritakan kehidupan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika bersama para istri beliau?!

Jadi, jelas bahwa Ali r.a. tidak mungkin mampu menceritakan sendiri seluruh tuntunan Rosul -shollallohu alaihi wasallam- kepada kalian!

(139) Kita katakan juga: Bahwa kita dapati sebagian besar daerah Islam mendapatkan ilmu dari Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dari selain jalan Ali r.a, dan mayoritas orang menyampaikannya juga bukan dari keluarga beliau!

Sebagai misal, beliau mengutus As’ad bin Zuroroh r.a. ke Madinah untuk mengajak penduduknya masuk Islam, mengajarkan Alqur’an kepada Kaum Anshor, dan memahamkan mereka tentang agamanya.

Beliau juga mengutus Ala’ bin Hadhromiy r.a. ke Bahrain untuk misi yang sama.

Beliau juga mengutus Mu’adz r.a. dan Abu Musa r.a. ke Yaman, dan mengutus Attab bin Usaid r.a. ke Mekah.

Lantas. mana klaim syiah bahwa tidak sah menyampaikan ajaran beliau kecuali ahlul baitnya??!

(140) Kaum syiah dalam kitab-kitabnya, mengakui bahwa tidak sampai kepada mereka tentang halal, harom dan manasik haji kecuali dari jalan Abu Ja’far al-Baqir.

Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mendapatkan hal tersebut dari Ali r.a.!

Ini juga menunjukkan bahwa para pendahulu mereka beribadah dengan apa yang dibawa oleh sahabat Rosul -shollallohu alaihi wasallam-!

Beberapa kitab syiah mengatakan: “Pada asalnya, kaum syiah sebelum munculnya Abu Ja’far al-Baqir, tidak tahu masalah manasik haji, perkara yang halal dan yang harom, sampai datangnya Abu Ja’far, ia kemudian membuka pengetahuan pengikutnya, mengajari mereka manasik haji, perkara yang halal dan yang harom. Sampai akhirnya semua orang membutuhkanya, padahal sebelumnya kaum syiah membutuhkan mereka (kaum sunni)”.[20]

(141) Kaum syiah mengatakan bahwa orang yang mimpi melihat imam mahdi mereka, diberikan pangkat adil (tepercaya) dan shodiq (benar ucapannya).

Syeikh mereka al-Mamaqoniy mengatakan: “Seorang bisa termuliakan karena mimpinya melihat al-Hujjah (julukan imam mahdi mereka) -semoga Allah mempercepat kemenangannya dan menjadikan kami tebusan untuknya setelah kemunculannya-. Dengan mimpinya itu kita mempersaksikan secara aksiomatis bahwa kedudukannya berada pada derajat keadilan yang paling tinggi”.[21]

Pertanyaannya: Mengapa kalian tidak menerapkan hukum itu terhadap orang yang mimpi melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, padahal sudah jelas beliau lebih mulia darinya??!

(142) Kaum syiah sangat kontradiktif, mereka tidak mau menerima riwayat yang datang dari orang yang tidak meyakini salah satu imam mereka. Karena alasan inilah, mereka menolak riwayat para sahabat.

Akan tetapi, di sisi lain mereka tidak menerapkan rumusan tersebut, terhadap pendahulu mereka!!

Syeikh mereka al-Hurrul Amiliy menegaskan bahwa syiah imamiyyah menerima riwayat yang datang dari kelompok syiah al-Fathiyyah,[22] syiah al-Waqifiyyah[23] dan syiah an-Nawusiyyah.[24] Padahal ketiga kelompok ini mengingkari sebagian 12 imam mereka, meskipun begitu mereka tetap menganggapnya sebagai perowi mereka yang tsiqoh.[25]

Pertanyaannya: Mengapa mereka tidak menerapkan hukum tersebut kepada para sahabat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-??!

(143) Banyak ulama syiah meyakini bahwa dalam kitab mereka al-Kafi karangan al-Kulainiy, terdapat riwayat shohih (kuat), dhoif (lemah), bahkan maudhu’ (palsu). Padahal mereka sendiri menyatakan bahwa kitab ini telah diajukan kepada imam mahdi mereka yang menghilang dan ia mengatakan: “Kafin li syi’atina” (ini cukup untuk pengikut kita).[26]

Pertanyaannya: Mengapa imam mahdinya ini tidak memprotes riwayat-riwayatnya yang palsu??!

(144) Syeikhnya syiah al-Hamadaniy dalam kitabnya Misbahul Faqih mengatakan: “Sesungguhnya kunci utama dijadikannya Ijma’ sebagai hujjah –sebagaimana pendapat yang dipilih ulama mutaakhirin- itu tidak tergantung pada kesepakatan seluruh ulama, bahkan tidak pula tergantung pada kesepakatan ulama pada masa tertentu, akan tetapi kunci utamanya ada pada pendapat orang yang ma’shum dengan cara terkaan…”.[27]

Lihatlah mereka menjadikan terkaaan dan prasangka mereka sebagai dalil, sedangkan (ijma’) kesepakatan ulama salaf bukanlah sebuah dalil.

(145) Salah seorang ulama terkemuka mereka, Ibnu Babawaih al-Qummiy, penulis kitab Man La Yahdhuruhul Faqih (salah satu dari empat kitab yang menjadi rujukan amal mereka). Kaum syiah mengakui bahwa orang ini: “Mengklaim adanya ijma’ dalam satu masalah, kemudian dalam masalah yang sama ia mengklaim adanya ijma’ yang menyelisihi ijma’ yang pernah ia klaim sebelumnya”.[28]

Sampai-sampai salah seorang ulama syiah yang lain mengatakan: “Orang yang modelnya seperti ini ketika mengklaim ijma’, bagaimana bisa dijadikan sandaran dan dipercaya nukilannya?!”.[29]

(146) Diantara keganjilan syiah, adalah jika ada beda pendapat dalam satu masalah, dan salah satu pendapat diketahui orangnya, sedang pendapat lain tidak diketahui orangnya, maka yang benar adalah pendapat yang tidak diketahui orangnya!! Mengapa?? Karena mereka beranggapan bahwa, bisa jadi pendapat yang tidak diketahui orangnya adalah pendapatnya imam yang ma’shum! Sampai-sampai syeikh mereka al-Hurrul Amiliy memprotesnya, dengan mengatakan: “…kalau nasabnya tidak jelas, bagaimana kita bisa memastikan ataupun mengira, bahwa ia itu orang yang ma’shum?!”.[30]

(147) Syeikhnya syiah al-Majlisiy mengatakan: “Menghadap ke arah makam adalah wajib, meskipun tidak menghadap ke arah kiblat”,[31] yakni ketika melakukan sholat dua rekaat di makam-makam mereka.

Yang mengherankan, ternyata larangan menjadikan kubur sebagai masjid dan kiblat, itu ada dalam kitab-kitab mereka dari para imam ahlul bait, akan tetapi mereka memaknai larangan tersebut sebagai takiyah, sebagaimana kebiasaan mereka menyikapi apa pun yang tidak sesuai hawa nafsu mereka.!!

(148) Kaum syiah sering mengulang-ulang hadits Ghodir, dan juga sabda beliau: “Aku ingatkan kalian agar menjaga keluargaku”, akan tetapi mereka lupa bahwa merekalah orang yang paling menyelisihi wasiat nabi ini, mengapa?? Karena mereka memusuhi sebagian besar ahlul bait.!!

(149) Kita katakan kepada syiah: Jika benar para sahabat menyembunyikan nash wasiat untuk Ali r.a, harusnya mereka juga menyembunyikan dan tidak meriwayatkan apa pun tentang keutamaan dan jasanya. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Ini menunjukkan bahwa jika seandainya nash itu ada, tentunya mereka akan menyampaikannya. Apalagi nash masalah khilafah merupakan peristiwa bersejarah yang sangat agung sekali, dan tentunya itu akan sangat dikenal oleh siapapun, baik pendukung maupun musuhnya!!

(150) Kaum syiah mengatakan: Sesungguhnya Allah memanjangkan umur Imam Mahdi mereka hingga beratus-ratus tahun, itu karena kebutuhan manusia -bahkan seluruh alam ini- kepadanya.

Kita katakan: Seandainya Allah itu memanjangkan umur seseorang karena kebutuhan makhluk kepadanya, tentunya Allah akan memanjangkan umur Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

(151) Kaum syiah menolak keterangan Ja’far, bahwa saudara kandungnya yang bernama Hasan al-Askariy, (ayahnya imam mereka, yang katanya menghilang) itu tidak mempunyai anak, dengan alasan ia tidak ma’shum.[32]

Tapi di sisi lain, mereka menerima pengakuan Utsman bin Sa’id, yang mengatakan bahwa Hasan al-Askariy itu memiliki anak, padahal ia juga tidak ma’shum. Sungguh sangat Kontradiktif sekali…!!

(152) Diantara akidah syiah yang sangat terkenal adalah akidah thinah. Inti akidah ini, bahwa Allah azza wajall menciptakan kaum sunni dari tanah liat dan menciptakan kaum syiah dengan tanah liat yang berbeda dengannya!! Kemudian terjadi percampuran antara dua tanah liat itu dengan cara-cara tertentu.

Maka kemaksiatan dan kejahatan apapun yang ada pada diri orang syiah, itu merupakan pengaruh buruk dari tanah liatnya sunni! Sebaliknya kebaikan dan sifat terpuji apapun yang ada pada diri sunni, itu merupakan pengaruh baik dari tanah liatnya syiah!

Kemudian pada hari kiamat nanti, akan dikumpulkan seluruh keburukan yang dilakukan orang syiah, kemudian ditimpakan ke orang sunni! Sebaliknya seluruh kebaikan yang dilakukan orang sunni dikumpulkan, kemudian diberikan kepada orang syiah!!!

Tapi kaum syiah lupa, bahwa tenyata akidah bikinan mereka ini menyelisihi madzhab mereka sendiri dalam masalah qodho, qodar dan amalan hamba. Mengapa?? Karena akidah thinah ini, menunjukkan bahwa seorang hamba itu terpaksa dalam amalannya, dan ia tidak mempunyai pilihan. Padahal madzhab mereka mengatakan: bahwa seorang hambalah yang menciptakan amalannya, dia sendirilah yang menciptakan amalannya tanpa campur tangan Allah, sebagaimana madzhabnya mu’tazilah.

(153) Keyakinan syiah dalam mengkafirkan para sahabat, sesungguhnya berakibat pada pengkafiran Ali r.a, mengapa??! Karena ia tidak menunaikan kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya.

Keyakinan itu juga menjadikan Syariat Islam tidak mutawatir.

Bahkan menjadikan Islam itu syariat yang batil, mengapa?? Karena yang menyebarkannya adalah orang-orang yang telah murtad dan kafir.

Itu juga melazimkan celaan kepada Alqur’an, mengapa?? Karena ia datang dari jalan Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a. dan para pembelanya. Dan inilah tujuan akhir penggagas tuduhan itu!!!

(154) Dalam kitab Nahjul Balaghoh dikatakan bahwa Ali r.a. memohon kepada Allah dengan doa berikut:

Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa yang engkau lebih mengetahui dariku. Dan jika aku mengulanginya, maka ulangilah ampunan-Mu. Ya Allah ampunilah dosaku, karena janjiku kepada-Mu, yang Engkau dapati aku tidak menunaikannya. Ya Allah, ampunilah dosaku, dengan ibadah lisan yang dapat mendekatkan diriku kepada-Mu, dan tundukkanlah hatiku. Ya Allah, ampunilah aku karena salah kata dan salah ucap, karena hati yang lalai dan lisan yang salah”.[33]

Dalam doa ini, Ali r.a. meminta ampun kepada-Nya atas dosa-dosanya karena lupa dll, dan ini menyelisihi akidah mereka tentang ke-ma’shum-annya.

(155) Kaum syiah beranggapan bahwa, tiada seorang nabi pun, melainkan ia telah menyeru tentang kekholifahan Ali r.a.![34] Allah juga mengambil janji kenabian dengan kekholifahan Ali r.a.![35] Bahkan karena ghuluw (perbuatan melampaui batas) mereka itu, sampai-sampai syeikh mereka at-Thohroniy mengatakan, bahwa kekholifahan Ali r.a. itu telah ditawarkan kepada segala sesuatu, yang menerimanya menjadi baik, sedang yang menolaknya menjadi buruk.[36]

Kita katakan kepada syiah: Misi dakwah para nabi adalah untuk menegakkan tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, bukan kepada kekholifahan ali r.a. sebagaimana klaim mereka. Allah ta’ala berfirman: “Tidaklah kami utus para rosul sebelum kamu (Muhammad) kecuali kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, maka hendaklah kalian hanya menyembah kepadaku” (al-Anbiya’:25)

Jika dakwaan kalian itu benar, bahwa kekholifahan ali r.a. itu termaktub di dalam kitabnya para nabi, pertanyaannya: Mengapa hanya kalian yang menyatakannya dan tidak ada kelompok lain yang tahu hal itu??!

Mengapa pemeluk agama lain (Yahudi dan Kristen) tidak mengetahui hal itu??! Padahal banyak dari mereka yang masuk Islam, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menceritakan kekholifahan Ali??!

Bahkan mengapa hal tersebut tidak tercantum dalam Alqur’an, kitab yang menjaga kitab-kitab sebelumnya??!

(156) Apakah para imam mereka pernah melakukan kawin mut’ah?! Lantas siapa anak-anak mereka dari hasil kawin mut’ahnya itu??!

(157) Kaum syiah mengatakan, bahwa para imam mereka, mengetahui apa yang sudah terjadi dan akan terjadi, tidak ada yang samar pada mereka, dan Ali r.a. adalah pintunya ilmu.

Pertanyaannya: Bagaimana Ali r.a. bisa tidak tahu apa hukumnya madzi, sehingga harus menyuruh orang untuk menanyakan hal itu kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

(158) Sumber-sumber syiah sepakat bolehnya mengamalkan takiyah, baik untuk para imam maupun yang lainnya, ini menunjukkan bolehnya seorang imam menampakkan amalan yang tidak sesuai dengan hatinya, dan sah-sah saja para imam itu mengatakan sesuatu yang tidak benar.

Kita katakan: Orang yang melakukan takiyah, berarti ia tidak ma’shum, mengapa?? Karena pastinya ia akan berdusta, dan dusta itu termasuk maksiat.

(159) al-Kulainy dalam kitabnya ar-Roudhoh menukil, bahwa sebagian pembela imam Ali r.a, memintanya untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh para kholifah sebelumnya, tapi ia menolaknya dengan dalih tindakan itu akan membuat pasukannya lari meninggalkannya.[37]

Pertanyaannya: Apakah Ali r.a. akan membiarkan kesalahan-kesalahan yang sangat fatal itu, yakni kesalahan yang -menurut kaum syiah- jelas-jelas menyelisihi Alqur’an dan Assunnah??!

Lantas apakah membiarkan kesalahan yang ada itu, sesuai dengan konsep ke-ma’shum-an yang mereka dakwakan untuk Ali??!

(160) Umar telah memilih 6 orang untuk melakukan syuro, setelah wafatnya, kemudian 3 orang dari mereka mengundurkan diri, lalu Abdurrohman bin Auf r.a. juga ikut mengundurkan diri, tinggal tersisa Utsman r.a. dan Ali r.a..

Pertanyaannya: Mengapa tidak dari awal saja, Ali r.a. mengatakan kepada mereka bahwa ia telah menerima wasiat kekholifahan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-??! Apakah masih ada orang yang ia takuti setelah meninggalnya Umar r.a.??! …. (bersambung…)


[1] Biharul Anwar (26/28)

[2] Al-Kafi (8/256), Biharul Anwar (27/253)

[3] Al-Muhadzdzab karangan Ibnul Barroj (1/13), al-Idhoh karangan Ibnu Syadzan (454), Wushulul Akhyar karangan al-Amiliy (68)

[4] Tanqihul Maqol karangan al-Mamaqoniy (3/142)

[5] Idem

[6] Kitab Salim bin Qois al-Amiriy (92), ar-Roudhoh minal Kafi (8/245), Hayatul Qulub karangan al-Majlisiy (2/640)

[7] Rijalul Kasyi (53)

[8] Ushulul Kafi (1/247)

[9] Rijalul Kasyi (53), Mu’jamu Rijalil Hadits karangan al-Khu’iy (12/81)

[10] Kasyful Ghitho’ karangan Ja’far an-Najafi (5), Da’irotul Ma’arif as-Syi’iyyah karangan Muhsin al-Amin (1/27)

[11] Nahjul Balaghoh (350)

[12] Biharul Anwar (25/351)

[13] Biharul Anwar (10139), an-Nawadir karangan ar-Rowandiy (163)

[14] Nasabu Quraisy karangan Mush’ab az-Zubairiy (45), Jamharotu Ansabil Arob karangan Ibnu Hazm (87)

[15] Nasabu Quraisy (52), Jamharotu Ansabil Arob (108)

[16] Umdatut Tholib fi Ansabil Ali Abi Tholib karangan Ibnu Anbah as-Syi’iy (111), Thobaqot Ibni Sa’ad (5/34)

[17] Al-Fushulul Mukhtaroh karangan al-Mufid (112-113)

[18] Roudhotul Wa’izhin (260)

[19] Ashlus Syi’ah wa Ushuliha karangan Muhammad Husain alu Kasyifil Ghitho’ (83)

[20] Ushulul Kafi (2/20), Tafsirul Ayyasyi (1/252-253), al-Burhan (1/386), Rijalul Kasyi (425)

[21] Tanqihul Maqol (1/211)

[22] Mereka adalah pengikuta Abdulloh al-Afthoh, putra Ja’far as-Shodiq

[23] Mereka adalah kelompok yang urutan imamnya berhenti sampai Musa bin Ja’far, mereka mengatakan bahwa orang setelahnya tidak berhak dengan drajat imamah lagi.

[24] Mereka adalah pengikut seorang lelaki yang dikenal dengan nama: Nawus atau Ibnu Nawus, mereka mengatakan bahwa Ja’far bin Muhammad belum meninggal, dan dialah imam mahdi sebenarnya.

[25] Lihatlah sebagaia contoh: Rijalul Kasyi (hal. 563, 565, 570, 712, 616, 597, 715)

[26] Muqoddimatul kafi, karangan Husain Ali (25), Roudhotul Jannat, karangan Khuwansariy (6/109), As-Syiah, karangan Muhammad Shodiq as-Shodr (122)

[27] Mishbahul Faqih (436), Alijtihad wat Taqlid (17)

[28] Jami’ul Maqol fi ma yata’allaqu bi Ahwalil haditsi war Rijal, karangan at-Turaihi (15)

[29] Idem.

[30] Muqtabasul Atsar (3/63)

[31] Biharul Anwar (101/369)

[32] Al-Ghoybah (106-107)

[33] Nahjul Balaghoh – Syarhu Ibni Abil Hadid (6/176)

[34] Biharul Anwar (11/60), al-Ma’alimuz Zulfa (303)

[35] al-Ma’alimuz Zulfa (303)

[36] Wada’iun Nubuwwah karangan at-Thohroniy (155)

[37] Ar-Roudhoh (29)