Your browser (Internet Explorer 7 or lower) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.

X

Sunni Syiah Dalam Diskusi Aqidah Bag 5

(161) Sebagian syiah menuduh Aisyah r.a. telah berzina –naudzubillah-.

Maka kita katakan kepada mereka: Jika tuduhan itu benar, mengapa Rosululloh tidak menegakkan hukuman zina kepadanya, padahal beliau telah mengatakan “Demi Allah, andai saja Fatimah yang mencuri, maka pasti aku potong tangannya”??! (HR. Bukhori) Mengapa Ali r.a. juga tidak menegakkan hukuman zina kepadanya, padahal ia adalah orang yang tak gentar dengan apapun dijalan Allah??! Mengapa pula Hasan r.a. tidak menghukumnya dengan hukuman zina, ketika ia menjadi kholifah??!

(162) Kaum syiah beranggapan bahwa Ali r.a. memiliki Alqur’an yang susunannya sesuai dengan urutan turunnya!

Kita katakan kepada mereka: Ali r.a. telah menerima tampuk khilafah setelah Utsman r.a, mengapa ia tidak mengeluarkan mushaf ini dengan lengkap dan baik?! Dua kemungkinan untuk kalian:

(a) Bisa jadi mushaf ini sebenarnya tidak ada, dan kalian hanya berdusta atas nama Ali r.a.

(b) atau mungkin mushaf itu ada dan Ali r.a. menyembunyikannya. Jika demikian, berarti ia telah menyembunyikan, dan menipu kaum muslimin selama pemerintahannya. –dan ini tidak mungkin dilakukan olehnya-.

(163) Al-Kulainiy membuat bab khusus dalam kitabnya al-Kafi dengan judul: “Para wanita tidak berhak mewarisi rumah “. Ia meriwayatkan dari Abu Ja’far, ia mengatakan: “Para wanita tidak berhak mewarisi harta yang berupa tanah dan rumah”.[1]

At-Thusiy dalam kitabnya at-Tahdzib (9/254) meriwayatkan dari Maisar, ia mengatakan: Aku telah menanyakan kepada Abu Abdillah, tentang apa yang boleh diwarisi oleh para wanita? Maka ia menjawab: “Mereka berhak mewarisi nilai dari batu bata, bangunan, kayu, dan rotan. Adapun tanah dan rumah, mereka tidak berhak mewarisinya”.

Dari Muhammad bin Muslim, dari Abu Ja’far a.s. ia mengatakan: “Para wanita tidak berhak mewarisi tanah dan rumah”.

Dari Abdul Malik bin A’yun, dari salah satu dari keduanya a.s. mengatakan: “Para wanita tidak berhak mewarisi tempat tinggal dan bangunan”.

Di dalam riwayat-riwayat mereka ini, tidak ada pengkhususan sama sekali, tidak untuk Fatimah r.a, tidak pula untuk yang lainnya. Atas dasar keterangan ini, maka sebenarnya Fatimah r.a. tidak berhak menuntut harta warisan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (sebagaiamana disebutkan dalam riwayat-riwayat syiah).

Ditambah lagi, seluruh harta (peninggalan) Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah untuk imam. Sebagaimana diriwayatkan dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Muhammad, dari Amr bin Syamr, dari Jabir, dari Abu Ja’far, ia mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Allah menciptakan Adam, dan memberikannya satu bagian dari dunia. Apapun yang dulunya menjadi bagian Adam, maka itu menjadi bagian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, dan apapun yang dulunya menjadi bagian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, maka ia menjadi bagian para imam dari keluarga Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-“.[2]

Kita tahu imam yang pertama dalam keyakinan syiah adalah Ali r.a. Oleh karena itu, sebenarnya orang yang paling berhak menuntut Tanah Fadak adalah Ali r.a, bukan Fatimah r.a. Akan tetapi kita tidak melihat Ali r.a. melakukannya, bahkan ia mengatakan: “Seandainya aku berkehendak, tentunya aku bisa mendapatkan madu jernih ini, gandum pilihan ini, dan sutera tenun ini. Akan tetapi alangkah jauhnya aku dari godaan hawa nafsuku hingga sifat tamakku menuntunku untuk memilih-milih makanan, mungkin saja di negeri Hijaz dan Yamamah, masih ada orang yang tidak tamak dengan Qursh (roti yang bulat dan pipih), dan tidak pernah merasakan kenyang (dalam hidupnya)”.[3]

(164) Kaum syiah meriwayatkan dari Imam Ja’far as-Shodiq -yang menurut mereka adalah pendiri madzhab Ja’fari-, ia dengan bangga mengatakan: “Aku dilahirkan oleh Abu Bakar sebanyak dua kali”.[4] Itu karena nasabnya kembali kepada Abu Bakar dari dua jalur:

Pertama: Dari jalur ibunya, Fatimah binti Qosim bin Abu Bakar

Kedua: Dari jalur nenek seibunya, Asma’ binti Abdur Rohman bin Abu Bakar, yang merupakan ibunya Fatimah binti Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar.

Tapi, kita dapati kaum syiah, meriwayatkan dari Imam Ja’far as-Shodiq ini, banyak riwayat bohong tentang celaannya kepada kakeknya Abu Bakar r.a.!!

Pertanyaannya: Bagaimana di satu sisi, ia membanggakan dirinya dengan kakeknya, tapi di sisi lain ia malah mencelanya?!

Sungguh, bisa saja ucapan ini keluar dari orang jalanan yang tak tahu apa-apa, bukan dari imam yang dipandang kaum syiah sebagai orang yang paling faqih dan paling taqwa di zamannya, yang tidak seorang pun mengharuskan kepadanya untuk melontarkan pujian ataupun celaan.

(165) Kaum syiah meriwayatkan dari Abu Abdillah Ja’far as-Shodiq, ia mengatakan: “Pemegang perkara (tampuk khilafah) ini adalah seorang lelaki, tiada orang yang menamai dirinya dengan namanya kecuali kafir…”[5]

Kemudian mereka meriwayatkan dari Abu Muhammad al-Hasan al-Askariy, ia mengatakan kepada ibunya al-Mahdi: “Engkau akan mengandung seorang lelaki, namanya Muhammad, dialah yang akan memimpin sepeninggalku…”[6]

Bukankah ini kontradiktif?! Sekali waktu mengatakan: “Barangsiapa yang memanggilnya dengan namanya, maka ia kafir”, tapi di waktu yang lain ia mengatakan, bahwa al-Hasan al-Askariy menamainya dengan nama Muhammad!!

(166) Apakah ada kitab yang diturunkan kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- selain Alqur’an?! dan kitab tersebut dikhususkan untuk Ali r.a.?!

Jika kalian mengatakan: “Tidak ada”, lalu bagaimana kalian menjawab riwayat-riwayat kalian berikut ini:

(a) al-Jami’ah.

Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Aku Muhammad, sungguh kami memiliki kitab al-Jami’ah, tahukah mereka apa itu al-Jami’ah?!

Abu Bashir menimpali: “Aku katakan: Diriku adalah tebusanmu, apa itu al-Jami’ah?!”.

Abu Abdillah menjawab: “Ia adalah shohifah (lembaran), panjangnya 70 hasta, dengan ukuran hastanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, didiktekan langsung dari belahan mulut beliau, dan ditulis langsung oleh Ali r.a. dengan tangan kanannya. Di dalam lembaran itu terdapat seluruh yang halal dan yang haram. Bahkan didalamnya terdapat semua yang dibutuhkan manusia, sampai keterangan tentang makhluk kutu pun ada…dst”.[7]

Perhatikanlah ucapannya: “Di dalamnya terdapat semua yang dibutuhkan manusia”, lantas mengapa itu disembunyikan, sehingga kita tidak menemukannya beserta isi yang terkandung di dalamnya?! Bukankah ini termasuk menyembunyikan ilmu?!

(b) Shohifah Namus (lembaran Namus)

Dari Ridho, tentang ciri-ciri imam, ia mengatakan: “Dan ia memiliki shohifah (lembaran) yang di dalamnya terdapat seluruh nama pengikutnya sampai hari kiamat. Ia juga memiliki shohifah yang berisi seluruh nama musuhnya sampai hari kiamat”.[8]

Kita katakan: Shohifah apa ini, yang cukup untuk menampung seluruh nama pengikut syiah sampai hari kiamat?! Seandainya, nama orang di negara Iran -yang hari ini masih hidup- saja kita catat, tentunya kita akan membutuhkan minimal ratusan jilid buku!!

(c) Shohifah al-’Abithoh.

Dari Amirul Mukminin, ia mengatakan: “Sungguh demi Allah, aku memiliki banyak potongan shohifah dari Rosululloh -semoga Allah memberikan sholawat kepada beliau, keluarga dan keturunannya-. Diantaranya ada shohifah al-’Abithoh, dan kabar tentang bangsa Arab lebih hebat darinya. Di dalamnya terdapat 60 kabilah arab baharjah, mereka tidak berhak mendapat bagian Agama Allah (yakni mereka semua kafir)”.[9]

Kita katakan: Sungguh, riwayat ini tidak bisa diterima dan tidak masuk akal. Apabila sejumlah kabilah ini kafir semua, itu berarti tiada seorang pun yang muslim menurutnya.

Perhatikan juga, pengkhususan kabilah-kabilah arab dengan hukum kejam ini, darinya anda akan mencium bau fanatisme terhadap bangsa tertentu!

(d) Shohifah Dzu’abatus Saif. (lembaran pada gantungan pedang)

Dari Abu Bashiroh, dari Abu Abdillah: “Pada gantungan pedang Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ada sebuah shohifah kecil, yang didalamnya terdapat banyak huruf, dan setiap hurufnya bisa membuka seribu huruf lain.

Abu bashiroh berkata, Abu Abdillah mengatakan: “Maka tidak keluar dari shohifah itu, kecuali hanya dua huruf saja, sampai kiamat tiba”.[10]

Kita katakan: Lantas kemana huruf-huruf yang lain?! Bukankah sebaiknya juga dikeluarkan, sehingga pengikut Ahlul Bait bisa mengambil manfaat darinya?!

Ataukah ia akan terus disembunyikan sampai datangnya Mahdi, dan banyak generasi mati sedangkan agama mereka terus dikurung dalam sirdabnya…??!

(e) Shohifah Ali

Yaitu shohifah lain, yang juga terdapat pada gantungan pedang beliau -shollallohu alaihi wasallam-.

Dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Pada gantungan pedang Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- ada shohifah, yang tertulis di dalamnya: bismillahirrohmanirrohim, sesungguhnya orang yang paling sombong kepada Allah pada hari kiamat nanti adalah orang yang membunuh mereka yang bukan pembunuhnya, dan orang yang memukul mereka yang bukan pemukulnya. Barangsiapa yang mengaku sebagai budaknya orang yang bukan tuannya, maka ia telah kafir (ingkar) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-. Dan barangsiapa berbuat bid’ah atau membantunya, maka pada hari kiamat nanti, Allah takkan menerima ibadahnya yang wajib, maupun yang sunat”.[11]

(f) al-Jafr (dokumen rahasia)

Ia ada dua macam: al-Jafrul Abyadh (dokumen putih) dan al-Jafrul Ahmar (dokumen merah).

Dari Abul Ala’, ia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah mengatakan: “Sungguh aku memiliki al-Jafrul Abyadh.

Abu Ala’ bertanya: “Apa saja yang ada di dalamnya?”

Abu Abdillah menjawab: “Di dalamnya terdapat Zabur-nya Nabi Dawud, Taurot-nya Nabi Musa, Injil-nya Nabi Isa, Shuhuf-nya Nabi Ibrohim, dan seluruh yang halal dan yang harom… Dan aku juga mempunyai al-Jafrul Ahmar“.

Abu Ala’ bertanya: “Apa saja yang ada di dalamnya?”

Abu Abdillah menjawab: “Di dalamnya terdapat persenjataan, itu akan dibuka untuk (menuntut balas) darah, yang akan dibuka oleh pemilik pedang untuk membunuh”.

Lalu Abdulloh bin Abi Ya’fur berkata kepadanya: “Semoga Allah memperbaikimu, apakah keturunan Hasan r.a. mengetahui hal ini?”.

Ia menjawab: “Sungguh demi Allah, mereka mengetahuinya sebagaimana mereka tahu malam itu malam, dan sebagaimana mereka tahu siang itu siang. Akan tetapi karena hasad dan cinta dunia, mereka kemudian menolak dan mengingkarinya. Seandainya mereka mencari kebenaran dengan kebenaran, tentunya itu akan lebih baik bagi mereka”.[12]

Kita katakan: Cobalah renungkan! Zabur-nya Nabi Dawud, Taurot-nya Nabi Musa, Injil-nya Nabi Isa, Shuhuf-nya Nabi Ibrohim, dan semua yang halal dan yang harom ada di al-Jafr ini! Lantas mengapa kalian menyembunyikannya?!

(g) Mushaf Fatimah r.a.

- Dari Ali bin Said, dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Sungguh demi Allah, kami memiliki mushaf fatimah, tidak ada di dalamnya satu ayat pun dari Alqur’an. Sungguh ia merupakan dikte-an Rosululloh -semoga Allah memberikan sholawat kepada beliau dan keluarganya- yang ditulis oleh Ali r.a. dengan tangannya”.[13]

- Dari Muhammad bin Muslim, dari salah seorang dari keduanya r.a.: “Aku tinggalkan pada Fatimah sebuah mushaf, ia bukan Alqur’an, tetapi merupakan firman Allah yang diturunkan kepadanya, didiktekan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan ditulis oleh Ali r.a.”.[14]

- Dari Ali bin Abu Hamzah, dari Abu Abdillah: “Kami memiliki Mushaf Fatimah, sungguh demi Allah, tidak ada huruf (kalimat) yang sama dengan huruf Alqur’an, akan tetapi ia merupakan dikte-an Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, dan ditulis oleh Ali r.a.”.[15]

Maka, apabila kitab tersebut adalah hasil dikte-an Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan ditulis oleh Ali r.a, mengapa beliau menyembunyikannya dari umat islam?! Padahal Allah telah memerintah beliau agar menyampaikan semua yang diturunkan kepadanya, sebagaimana firman-Nya: “Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya” (al-Maidah: 67).

Bagaimana mungkin, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- setelah menerima wahyu ini menyembunyikan Alqur’an ini dari seluruh umat islam?! Pantaskah Ali r.a. dan para imam setelahnya menyembunyikannya dari para pengikutnya?! Bukankah ini merupakan pengkhianatan terhadap amanat yang diemban oleh mereka?!

(h) Taurat, Injil dan Zabur.

Dari Abu Abdillah, bahwa ia biasa membaca kitab Injil, Taurat, dan Zabur dalam bahasa Suryani.[16]

Kita katakan: Lantas apa gunanya Amirul Mukminin dan para imam setelahnya membaca dan mengkaji bersama kitab Zabur, Taurat dan Injil dengan sembunyi-sembunyi, padahal riwayat-riwayat mereka mengklaim bahwa hanya Ali r.a. saja yang menerima Alqur’an secara lengkap, seluruh kitab dan banyak shohifah lainnya?!

Lantas, apa gunanya kitab Zabur, Taurat, dan Injil bagi Ali r.a.?! Sedangkan kita semua tahu bahwa kitab-kitab itu telah dinasakh (dihapus) dengan turunnya Alqur’an?!

Setelah ini semua, kita katakan: Kita semua tahu bahwa Islam tidak memiliki kecuali satu kitab, yakni Alqur’an. Adapun kitab-kitab yang berjumlah banyak, itu adalah ciri-ciri orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana jelas terlihat pada kitab-kitab mereka yang berjumlah banyak.

(167) Kaum syiah meriwayatkan dari Abul Hasan, dalam firman-Nya: “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka”, ia mengatakan: yakni mereka ingin memadamkan kepemimpinan Amirul Mukminin.

Sedangkan firman-Nya setelah itu: “Tetapi Allah tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya”, maksudnya bahwa Allah-lah yang akan menyempurnakan ke-imamah-an itu, dan ke-imamah-an itulah maksud dari kata cahaya, yakni dalam firman-Nya: “Maka, berimanlah kalian kepada Allah dan Rosul-Nya, dan kepada cahaya yang kami turunkan!”. Ia mengatakan lagi: “demi Allah, cahaya itu adalah para imam dari keluarga Muhammad pada hari kiamat nanti”.[17]

Pertanyaannya: Apakah Allah menyempurnakan cahaya-Nya dengan menyebarkan Islam, atau dengan memberikan kekuasaan, wasiat, dan kekhilafahan kepada ahlul bait?!

(168) Kaum syiah memvonis bahwa Muawiyah r.a. telah murtad dan kafir! Jika tuduhan itu benar, maka berarti mereka telah mencela Ali r.a. dan anaknya Hasan r.a. Mengapa? Karena penjelasan berikut ini:

Kalau kita katakan Muawiyah r.a. telah murtad, berarti kita mengakui bahwa Ali r.a. pada waktu itu kalah dengan kaum murtaddin. Sedangkan Hasan r.a, ia malah menyerahkan tampuk pimpinan kepada kaum murtaddin.

Di sisi lain kita dapati, Kholid bin Walid r.a. pada zaman Abu Bakaar r.a. mampu memerangi dan menaklukkan para murtaddin. Ini menunjukkan pembelaan Allah kepada Kholid r.a. untuk menaklukkan kaum kafir, lebih besar dari pada pembelaan Allah kepada Ali r.a.?!, karena Allah maha adil dan tidak mendzolimi salah satu dari keduanya, sehingga dengan begitu Kholid r.a. di sisi Allah menjadi lebih afdhol dari pada Ali r.a. Bahkan pasukan Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a. dan para asisten mereka selalu menang menghadapi kaum kafir, tapi mengapa Ali r.a. malah tidak mampu menghadapi para murtaddin!

Allah ta’ala juga telah berfirman: “Janganlah kalian merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kalian paling tinggi derajatnya, jika kalian beriman”. (Ali Imron: 139), Dia juga berfirman: “Maka janganlah kalian lemah dan mengajak damai, karena kalianlah yang lebih unggul, dan Allah pun bersama kalian, dan Dia tidak akan mengurangi segala amal kalian”. (Muhammad: 35). Tapi ketika merasa tidak mampu menyingkirkan Muawiyah r.a. dari negaranya, Ali r.a. akhirnya mengajak damai dan tenang seperti sediakala. Maka, seandainya para sahabat Ali r.a. itu mukmin, sedang pengikut Mu’awiyah r.a. itu murtad -sebagaimana dituduhkan syiah-, seharusnya para sahabat Ali r.a. bisa menundukkan mereka, tapi kenyataannya tidak demikian!

(169) Sesungguhnya kaum syiah tidak akan mampu menetapkan keimanan dan keadilan Ali r.a. Mereka tidak mungkin mampu menetapkannya kecuali jika mereka menjadi Ahlus Sunnah.

Karena, jika Kelompok Khowarij dan mereka yang setuju mengkafirkan atau men-fasik-kan Ali r.a. mengatakan: “Kami tidak menerima jika Ali dikatakan mukmin, akan tetapi dia itu kafir atau dholim” -sebagaimana tuduhan syiah kepada Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.-, tentunya mereka tidak mempunyai dalil atas keimanan dan keadilan Ali r.a, kecuali dalil-dalil tersebut lebih menunjukkan keimanan dan keadilannya Abu Bakar r.a, Umar r.a, dan Utsman r.a..

Apabila kaum syiah berhujjah dengan kabar yang mutawatir tentang islamnya, hijrahnya dan jihadnya Ali r.a, maka kabar itu juga telah mutawatir dari tiga kholifah itu. Bahkan telah mutawatir juga kabar tentang islamnya, sholatnya, dan puasanya Mu’awiyah r.a. dan para kholifah Bani Umayyah dan Bani Abbas, begitu juga jihad mereka melawan para kuffar!

Jika kaum syiah menuduh salah satu dari mereka dengan kemunafikan, maka bisa juga seorang Khowarij menuduh Ali r.a. dengan kemunafikan. Jika mereka menyebutkan syubhat lain, seorang Khowarij juga bisa mendatangkan syubhat yang lebih kuat lagi!

Jika kaum syiah itu menuduh Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, itu munafik, memendam permusuhan kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, dan sebisa mungkin merusak Islam, maka bisa juga orang Khowarij (yang menentang Ali r.a.) mengatakan hal yang sama kepada Ali.

Bisa saja seorang khowarij (yang menentang Ali), mengatakan: bahwa Ali dulunya benci terhadap anak pamanya itu (yakni Nabi -shollallohu alaihi wasallam-) -karena sengketa keluarga-, sehingga ia ingin merusak agamanya, tapi ia tidak mampu mewujudkannya di masa beliau dan masa-masa tiga kholifah berikutnya, hingga akhirnya ia berhasil membunuh kholifah ketiga (Utsman r.a.) dan menyulut fitnah (kekacauan), yang dengannya ia berhasil membunuh para sahabat Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- dan umatnya. Itu semua ia lakukan karena kebencian dan permusuhannya kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Ia dulunya juga memendam jalinan hubungan dengan kelompok munafikin yang mendakwakan ketuhanan dan kenabian untuk dirinya, karena kebiasaannya yang menampakkan apa yang tidak ada dalam hatinya, karena inti ajaran agamanya adalah takiyah. Itulah sebabnya mengapa firqoh al-Batiniyyah, termasuk diantara pengikutnya, mereka mempunyai apa yang dirahasiakan Ali r.a, dan menyebarkan ajaran agama kebatinan yang dianut oleh Ali r.a. tersebut!

Apabila kaum syiah ingin menetapkan keimanan dan keadilan Ali r.a. dengan nash Alqur’an, maka kita katakan, bahwa Alqur’an berlaku umum untuk semua orang. Tercakupnya Ali r.a. dalam ayat Alquran, tidak lebih utama dari pada tercakupnya sahabat lain dalam ayat yang sama. Tidak ada satu ayat pun, yang mereka klaim sebagai ayat yang khusus ditujukan kepada Ali r.a, kecuali bisa saja orang lain mengklaim ayat yang sama itu khusus untuk Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.

Soal klaim-mengklaim tanpa hujjah, itu bisa dilakukan oleh siapapun. Dan mengklaim adanya keutamaan bagi syaikhoin (Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.), itu lebih mudah dari pada mengklaim keutamaan untuk sahabat lainnya.

Apabila kaum syiah mengatakan, bahwa keimanan dan keadilan Ali r.a. itu datang dari nukilan dan riwayat yang kuat, maka kita katakan bahwa nukilan dan riwayat yang ada pada mereka justru lebih masyhur dan lebih banyak!

Jika mereka mendakwakan riwayatnya mutawatir, maka mutawatir-nya kabar tentang keutamaan Abu Bakar r.a. itu lebih benar!

Jika mereka bersandar pada nukilan dari para sahabat, maka justru nukilan mereka tentang keutamaan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. itu lebih banyak!

(170) Kaum syiah beranggapan bahwa Ali r.a. adalah orang yang paling berhak dengan Imamah (tampuk khilafah), karena -sebagaimana klaim mereka- dialah sahabat nabi yang paling utama, dan paling banyak keutamaannya melebihi sahabat lainnya.

Kita katakan: Andai saja kalian mengetahui banyak keutamaan untuk Ali r.a, seperti lebih dulu masuk islam, pernah berjihad bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ilmunya luas, dan seorang yang zuhud. Lantas apakah kalian mendapati hal tersebut ada pada diri Hasan r.a dan Husain r.a.?! Coba bandingkan keduanya dengan Sa’ad bin Abi Waqqosh r.a, Abdurrohman bin Auf r.a, Abdulloh bin Umar r.a. dan para sahabat lainnya baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor?! Tentu tidak ada yang bisa mengklaim hal tersebut di atas untuk keduanya.

Maka, tidak ada sandaran lagi bagi mereka untuk mendakwakan ke-imamah-an keduanya, kecuali dengan mengklaim adanya nash khusus untuk keduanya agar menjadi kholifah, dan itu merupakan hal yang setiap orang mampu melakukannya.

Andaikan saja Bani Umawiyah membolehkan untuk berdusta dalam mengklaim nash khusus tentang Mu’awiyah, tentunya posisi mereka lebih kuat dari pada posisi kaum syiah, karena firman Allah ta’ala: “Barangsiapa dibunuh secara dholim, maka sungguh kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan”. (al-Isro’:33), maka bisa saja Bani Umawiyah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “orang yang didholimi” adalah Utsman bin Affan r.a, dan Allah telah menolong Muawiyah r.a. karena posisinya sebagai walinya Utsman r.a.!

(171) Kaum syiah beranggapan, bahwa Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. telah merampas tampuk khilafah dari Ali r.a, serta merencanakan agar para sahabat menghalanginya… -sampai akhir kedustaan mereka-.

Kita katakan: Seandainya apa yang kalian sebutkan itu benar, lantas mengapa Umar r.a. memasukkannya sebagai salah satu anggota syuro?! Andaikan Umar r.a. tidak mengikutkannya, sebagaimana ia tidak mengikutkan Sa’id bin Zaid r.a. dalam syuro tersebut, atau menggantinya dengan orang lain, tentunya tidak ada seorang pun yang memprotesnya, walaupun dengan sepatah kata?!

Maka benarlah kesimpulan kita, bahwa sebenarnya para sahabat itu telah bersikap terhadap Ali r.a. sesuai dengan posisinya, mereka tidak melampaui batas, tidak pula memandangnya dengan sebelah mata, -semoga Allah selalu meridhoi mereka semua-. Para sahabat itu telah mendahulukan orang yang paling berhak, dan siapa yang lebih utama untuk mengembannya. Mereka menyamakannya dengan orang yang sepadan dengan mereka.

Penjelasan berikut ini, menguatkan kesimpulan ini:

Ketika Ali r.a. memegang tampuk khilafah setelah wafatnya Utsman r.a, maka kalangan Muhajirin dan Anshor pun bersegera untuk membaiatnya.

Apakah ada yang menyebutkan bahwa salah seorang dari mereka mengajukan udzur karena telah membaiat Abu Bakar r.a., Umar r.a. dan Utsman r.a.?! Atau adakah diantara mereka yang bertaubat karena pengingkarannya terhadap nash ke-imamah-an Ali r.a.?! Atau adakah orang yang mengatakan: “Aku sekarang ingat nash tentang kekhilafahan Ali r.a. yang dulunya aku lupa dengannya”?!.

(172) Kaum Anshor telah menentang Abu Bakar r.a, dan mengajak untuk membaiat Sa’ad bin Ubadah r.a, sedang Ali r.a. malah duduk di rumahnya, ia tidak memihak Abu Bakar r.a, tidak pula memihak mereka. Maka kembalinya Kaum Anshor untuk membaiat Abu Bakar r.a, tidak mungkin keluar dari sebab-sebab berikut ini:

(a) Karena kalah kuat.

(b) Atau karena mereka sadar bahwa Abu Bakar r.a. lebih berhak dengan tampuk khilafah tersebut, sehingga mengharuskan mereka membaiatnya.

(c) Atau mereka melakukannya tanpa ada sebab apapun. Dan tidak mungkin ada kemungkinan lain lagi.

Apabila kaum syiah mengatakan, bahwa “mereka membaiatnya karena kalah kuat”, maka kita katakan, itu adalah dusta, karena dalam peristiwa itu tidak pernah terjadi perang, saling pukul, saling hujat, ancaman, ataupun persenjataan. Dan mustahil Kaum Anshor gentar, padahal jumlah mereka lebih dari 2000 pasukan berkuda yang pemberani, yang semuanya dari satu keluarga besar. Keberanian mereka, jelas tidak menyisakan keraguan di hati, karena selama 8 tahun berturut-turut mereka terus memerangi seluruh bangsa arab di setiap sudut negerinya, mereka siap mati, dan siap diserang oleh kekaisaran romawi dalam perang Mu’tah dan peristiwa lainnya.

Mustahil Kaum Anshor itu menjadi gentar hanya dengan Abu Bakar r.a. dan dua orang yang datang dengannya, yang ia tidak memiliki keluarga yang besar, tidak memiliki majikan, pembela, dan harta yang bisa menjadi pendukungnya. Mustahil kaum anshor itu gentar sehingga mau kembali kepada orang yang membatalkan hak mereka, bahkan membaiatnya dengan tanpa keraguan dan tanpa penundaan.

Tidak benar juga, jika mereka menarik kembali ucapan dan pendapat mereka -bahwa khilafah adalah hak mereka- dan menarik kembali keinginan mereka untuk membaiat anak paman mereka dengan tanpa sebab apapun. Karena mustahil jumlah yang besar itu sepakat dengan suatu yang mereka anggap kebatilan, tanpa adanya paksaan dan tujuan untuk mendapatkan harta atau kedudukan. Sungguh mustahil tanpa ada sebab apa-apa, kemudian mereka mau menyerahkan semua urusannya, kepada seorang yang tidak memiliki kerabat, kekuatan, pelayan, penjaga pintu, gedung yang aman, majikan dan harta yang cukup.

Jika semua kemungkinan di atas salah, berarti hanya tersisa satu kemungkinan yang benar, yakni bahwa Kaum Anshor itu mau kembali membaiat Abu Bakar r.a, karena dalil yang benar dan shohih menurut mereka, yang datang dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

Mereka kembali, bukan karena ijtihad seperti ijtihadnya mereka (kaum syiah), bukan pula karena prasangka seperti prasangka mereka (kaum syiah).

Apabila kepemimpinan itu telah lepas dari tangan Kaum Anshor, lantas apa yang menjadikan mereka semua sepakat untuk menginkari adanya nash dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-tentang kekhilafahan Ali r.a.?! Sungguh mustahil mereka semua sepakat untuk menolong orang yang mendholimi dan merampas hak mereka!!

(173) Kontradiksi yang ada dalam kisah Imam Mahdi-nya syiah.

(a) Siapa ibunya Mahdi itu?

Apakah ia seorang budak yang bernama Narjas, ataukah budak yang bernama shuqoil, ataukah budak yang bernama malikah, ataukah budak yang bernama Khomth, ataukah budak yang bernama Hakimah, ataukah budak yang bernama Raihanah atau Susan, ataukah ia itu orang merdeka yang bernama Maryam?!

(b) Kapan Mahdi dilahirkan?

Apakah ia dilahirkan setelah delapan bulan dari ayahnya meninggal, ataukah dilahirkan sebelum ayahnya meninggal, yakni tahun 252, ataukah ia dilahirkan tahun 255, ataukan tahun 256, ataukah tahun 257, ataukah tahun 258. Ataukah ia lahir pada tanggal 8 Dzul qo’dah, ataukah tanggal 8 Sya’ban, ataukah tanggal 15 Sya’ban, ataukah 15 Romadhon?!

(c) Bagaimana ibunya mengandungnya?

Apakah ia mengandungnya di perut sebagaimana perempuan lain? Ataukah ia mengandungnya di sisi badannya, tidak seperti perempuan lainnya?!

(d) Bagaimana ibunya melahirkannya?

Apakah ia melahirkannya dari jalan biasa? Ataukah ia lahir dari paha, tidak seperti kebiasaan wanita lain?!

(e) Bagaimana pertumbuhannya?

Mereka meriwayatkan dari Abul Hasan: “Kami para pemilik wasiat (kekhilafahan), tumbuh dalam sehari sebagaimana tumbuhnya orang lain dalam sepekan”!

Dari Abul Hasan, ia mengatakan: “Bayi kami yang berumur sebulan, sama dengan bayi orang lain yang berumur setahun”!

Dari Abul Hasan, ia mengatakan: “Kami para imam, tumbuh dalam sehari, sebagaimana tumbuhnya orang lain dalam setahun”![18]

(f) Dimana ia tinggal?

Mereka mengatakan: “Di Thoibah (Madinah)”, lalu mengatakan: “bukan di sana, tapi di gunung Rodhwa di daerah Rouha’, lalu mengatakan: “bukan di sana, tapi di Mekah di daerah Dzi Thuwa, lalu mengatakan: “bukan di sana, tapi di daerah Samurro’”.

Sampai-sampai ada sebagian mereka mengatakan: “Andaikan aku tahu, dimana engkau berada… apakah di bumi ataukah di langit sana… ataukah di daerah Rodhwa ataukah di tempat lain, ataukah di daerah Dzi thuwa… ataukah di Negeri Yaman di Lembah Syamrokh, ataukah di Jazirah Khadhra’…?!”[19]

(g) Ketika keluar, apakah ia masih muda atau sudah tua?

Dari al-Mufadhdhol, ia mengatakan: “Aku bertanya kepada as-Shodiq: ‘Wahai sayid-ku, ia (Mahdi) akan kembali muda atau keluar dalam keadaan sudah tua?’ ia menjawab: ‘SubhanAllah, apa ada yang tahu itu, ia akan keluar kapanpun ia kehendaki, dan dengan bentuk apa pun ia ingini’”.[20]

Dalam riwayat lain: “Ia akan keluar dalam keadaan muda, seperti orang yang umurnya 32 tahun”.[21]

Dalam riwayat lain: “Ia akan keluar, dan umurnya 51 tahun”.[22]

Dalam riwayat lain: “Ia akan keluar dalam keadaan muda, seperti orang yang umurnya 33 tahun.[23]

(h) Berapa tahun ia akan berkuasa?

Muhammad as-Shodr mengatakan: “Ada banyak riwayat yang menceritakan masalah ini, akan tetapi ada perselisihan yang sangat besar di dalamnya, sehingga menjadikan banyak pengarang kitab menjadi bimbang dan bingung”.[24]

Ada yang mengatakan: “Mahdi itu akan berkuasa selama 19 tahun”, dalam riwayat lain: “Tujuh tahun, tapi Allah memanjangkan siang dan malamnya hingga salah satu tahunnya sama dengan 10 tahun, hingga masa pemerintahannya sama dengan 70 tahun dari tahun kalian”[25]

Dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Mahdi akan memerintah selama 309 tahun, sebagaimana para Ahlul Kahfi menetap di goanya.

(i) Berapa lama ia akan terus bersembunyi?

Mereka meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib, ia mengatakan: “Mahdi nantinya akan bersembunyi dan bingung. Saat itu ada kelompok yang tersesat, ada juga yang mendapat petunjuk. Ketika ia ditanya: “Berapa lama Mahdi dalam kebingungan?” Ali menjawab: “Selama enam hari atau enam bulan atau enam tahun”.[26]

Dari Abu Abdillah, ia mengatakan: “Waktu antara keluarnya Mahdi dan pembantaian jiwa yang suci, hanya 15 hari saja”, yakni pada tahun 140H.

Muhammad as-Shodr mengomentari riwayat ini dengan perkataannya: “Kabar ini adalah kabar yang kuat, dan bisa ditetapkan dalam sejarah -sebagaimana metode penulisan kitab ini-, ia telah diriwayatkan oleh al-Mufid dalam kitab al-Irsyad dari Tsa’labah bin Maimun, dari Syu’aib al-Haddad, dari Sholih bin Maitam al-Jamal, dan mereka semua adalah para perowi yang mulia dan tsiqoh. [27]

Ketika kabar itu ternyata tidak terjadi, maka datanglah riwayat lain, yang mengatakan: “Wahai Tsabit, sebenarnya Allah itu mulanya memberikannya waktu keluar tahun 70H, lalu ketika Husain dibunuh, Allah menjadi semakin marah kepada penduduk bumi, sehingga ia mengakhirkan waktunya hingga tahun 140 H, maka aku pun memberitahukan kalian bahwa ia akan keluar pada tahun 140 H, tapi kalian malah menyebarkan keterangan itu dan membuka tabir rahasia-Nya, sehingga Allah sekarang tidak memberitahu kita kapan ia akan keluar”.[28]

Kemudian datang riwayat yang menyalahkan semua riwayat yang datang, dari Abu Abdillah Ja’far as-Shodiq, ia mengatakan: “Telah berdusta orang-orang yang menentukan batas waktu itu, sesungguhnya kami ahlul bait tidak menentukan batas waktunya”.[29] Ia juga mengatakan: “Kami tidak menentukan batas waktu untuk kejadian yang telah lalu, kami juga tidak menentukan waktu untuk kejadian yang akan datang”.[30]

(174) Allah telah memuji para sahabat dalam beberapa ayat Alqur’an, diantaranya:

“Rahmatku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku bagi mereka yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan mereka yang beriman kepada ayat-ayat kami (-) (yaitu) mereka yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, yang membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang telah diturunkan kepadanya (Alqur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (al-A’rof: 156-157)

Allah juga berfirman: “(yaitu) orang yang menaati Allah dan Rosul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar. (-) (yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rosul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka!”, ternyata ucapan itu menambah kuat iman mereka, dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik pelindung”. (Ali Imron: 172-173)

Allah juga berfirman: “Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin. (-) dan Dia yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yang telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia maha perkasa lagi maha bijaksana”. (al-Anfal: 62-63).

Allah juga berfirman: “Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu” (al-Anfal: 64).

Allah juga berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imron: 110)

Dan masih banyak lagi ayat yang senada dengannya.

Adapun kaum syiah, mereka mengakui keimanan para sahabat di masa Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, akan tetapi mereka beranggapan bahwa para sahabat itu murtad sepeninggal beliau! Sungguh demi Allah, ini sangat mengherankan, bagaimana mungkin seluruh sahabat sepakat untuk murtad sepeniggal beliau?! Mengapa pula hal itu mereka lakukan?!

Bagaimana mereka menolong Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika situasi bahaya dan berat, mengorbankan jiwa dan apapun yang berharga, tapi kemudian murtad sepeninggal beliau tanpa sebab apapun?!

Kecuali bila kalian mengatakan, bahwa sebab murtadnya mereka adalah: karena mereka telah mengangkat Abu Bakar r.a. sebagai kholifah. Maka kita katakan:

Mengapa para sahabat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- sepakat untuk membaiat Abu Bakar r.a.? Apa yang mereka takutkan dari Abu Bakar r.a.? Apakah Abu Bakar r.a. itu mempunyai kekuatan dan kekuasaan sehingga bisa memaksa mereka untuk membaiatnya?

Ditambah lagi, keadaan Abu Bakar r.a. yang berasal dari Bani Taim, yang merupakan keluarga yang paling sedikit jumlahnya dari Kabilah Quraisy, adapun keluarga yang paling terhormat dan banyak jumlahnya dari Kabilah Quraisy adalah Bani Hasyim, Bani Abdiddar, dan Bani Makhzum.

Apabila Abu Bakar r.a. tidak mampu memaksa para sahabat Rosul -shollallohu alaihi wasallam- untuk membaiatnya, mengapa para sahabat itu mau mengorbankan jihad, iman, pembelaan, prioritas, dunia dan akhirat mereka untuk orang lain, yakni Abu Bakar r.a.?!

(175) Kaum syiah beranggapan bahwa para imam mereka ma’shum dan Mahdi mereka ada dan biasa berhubungan dengan sebagian ulama mereka. Ada yang mengatakan jumlah ulama yang biasa berhubungan dengan Mahdi mereka itu mencapai 30 orang.

Lalu pantaskah -setelah pengakuan ini- ada perselisihan dan pertentangan dalam ajaran mereka, yang hampir saja tidak ada kelompok dan sempalan yang menyamai mereka dalam soal perselisihan?! Sehingga hampir-hampir setiap mujtahid dalam ajaran mereka memiliki madzhab khusus untuk dirinya?! Padahal mereka mengakui bahwa adanya imam yang menerangkan hujjah kepada manusia adalah suatu kewajiban, dialah Mahdi yang ditunggu-tunggu. Lalu mengapa mereka menjadi kelompok yang paling banyak perselisihannya, padahal imam mereka itu ada dan sering berhubungan dengan dengan mereka?!

Kemudian kalian mengatakan, bahwa al-Majlisiy menyebutkan hadits, yang menerangkan bahwa: “Imam (Mahdi) yang menghilang itu tidak mungkin dilihat, dan barangsiapa mengaku telah melihatnya, maka ia telah berdusta”, kemudian kami membaca ulama kalian mengaku beberapa kali telah melihat Imam Mahdi!!

(176) Kita katakan kepada kaum syiah:

Kalian mengatakan, bahwa tidak boleh ada masa yang kosong dari orang yang menegakkan hujjah Allah, yaitu seorang imam. Apabila takiyah bagi kalian adalah 9/10 agama, dan ia boleh dilakukan oleh imam, bahkan sunat menerapkannya, atau bahkan merupakan keutamaan dan kemuliaan baginya, karena dialah orang yang paling bertakwa, lantas bagaimana hujjah Allah kepada makhluknya akan sempurna dengannya?!

(177) Pengarang kitab Nahjul Balaghoh meriwayatkan, bahwa ketika Ali mendengar ada Kaum Anshor yang mengatakan bahwa imamah itu hak mereka, ia mengatakan: “Mengapa kalian tidak berhujjah kepadanya bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah mewasiatkan agar membalas budi orang yang berbuat baik kepada mereka, dan memaafkan kesalahan mereka?! Mereka bertanya: “Apa hujjah yang ada dalam ucapan itu?”. Ia menjawab: “Seandainya imamah itu hak mereka, tentunya tidak akan ada wasiat itu untuk mereka”.[31]

Maka kita katakan kepada kaum syiah: “Rasululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga pernah berwasiat untuk Ahlul bait, dalam sabdanya: ‘Saya mengingatkan kalian untuk (menjaga) keluargaku’, dan seandainya imamah itu hak khusus mereka, tentunya tidak akan ada wasiat itu untuk mereka?!”

(178) Kaum syiah membuat banyak syarat untuk seorang imam, diantaranya: imam harus anak ayahnya yang paling besar, ia harus yang memandikan jenazah ayahnya, tingginya sama dengan tingginya tombak Rosul -shollAllahu alaihi wasallam-, dia orang yang paling alim, tidak pernah junub, tidak pernah mimpi basah, mengetahui hal gaib!,… dst

Akan tetapi, mereka kemudian jatuh dan melanggar sendiri syarat-syarat itu!! Karena kita temukan sebagian imam mereka bukan anak tertua, seperti Musa al-Kazhim dan Hasan al-Askariy.

Sebagian mereka tidak memandikan jenazah imam sebelumnya, seperti Ali ar-Ridho yang anaknya, Muhammad al-Jawad belum bisa memandikannya karena umurnya waktu itu masih di bawah 8 tahun. Bahkan Husain bin Ali, anaknya yang bernama Ali Zainal Abidin juga tidak memandikannya, karena ia yang waktu itu menetap dirumahnya, karena dihalangi oleh Asakir bin Ziyad.

Sebagian mereka juga tidak setinggi tombak Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, seperti Muhammad al-Jawad, yang umurnya masih di bawah 8 tahun ketika bapaknya meninggal, begitu juga Anaknya yang bernama Ali bin Muhammad, bapaknya juga meninggal ketika ia masih kecil.

Sebagian mereka ada yang bukan orang yang paling alim, seperti mereka yang menerima tampuk khilafah ketika masih kecil.

Sebagian mereka ada yang jelas-jelas dikabarkan oleh syiah, bahwa ia telah mimpi basah dan junub, seperti Ali r.a. dan kedua putranya Hasan r.a. dan Husain r.a., sebagaimana dikatakan oleh riwayat mereka, bahwa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tidak boleh ada yang junub di masjid ini, kecuali aku, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain”.[32]

Adapun mengetahui hal gaib, maka itu adalah dusta yang nyata, dan tidak pantas untuk dibantah, karena jika mereka mengetahui hal gaib, tentunya tidak ada imam yang mati karena racun -sebagaimana mereka katakan-, lalu dimana pengetahuan mereka tentang hal yang gaib?!

(179) Kaum syiah meriwayatkan bahwa Hasan al-Askariy -ayah imam mahdi mereka yang menghilang-, memerintahkan untuk menutup kabar tentang al-Muntadhor (sebutan Imam Mahdi) kecuali dari para perowi yang tsiqoh (tepercaya). Kemudian mereka menyelisihi hal itu, dan beranggapan bahwa siapa yang tidak mengetahu Imam Mahdi, maka berarti ia tahu dan menyembah kepada selain Allah! Dan apabila ia mati dalam keadaan seperti itu, maka ia mati dalam keadaan kafir dan munafik!.[33]

(180) Di hadapan kita ada dua kelompok:

(a) Kelompok yang mencela Alqur’an dengan mendakwakan terjadinya perubahan dan pemalsuan di dalamnya, yang didalangi oleh an-Nuri at-Thubrusiy, yakni pengarang kitab al-Mustadrok, yang menjadi salah satu dari 8 kitab hadits utama kaum syiah 12 imam, dialah pengarang Kitab Fashul Khitob Fi Itsbati Tahrifi Kitabi Robbil Arbab. Ia menyatakan dalam kitab tersebut tentang terjadinya tahrif (perubahan) dalam Alqur’an: “Diantara bukti adanya tahrif dalam Alqur’an adalah, fasihnya kalimat Alqur’an dalam beberapa paragraf yang sampai pada derajat mukjizat, dan lemahnya susunan kalimat di paragraf lainnya”!.[34]

Sayid Adnan al-Bahroniy mengatakan: “Banyak kabar (riwayat) yang tidak terhitung lagi jumlahnya, dan telah mencapai derajat mutawatir, sehingga tidak perlu lagi menukil riwayat itu setelah tersebarnya pendapat telah terjadinya tahrif dan perubahan yang dilakukan oleh kedua kelompok. Hal ini sudah menjadi opini yang diterima oleh para sahabat dan tabi’in, bahkan itu merupakan ijma’ golongan yang benar (syiah) dan menjadi pokok utama aliran mereka, dan riwayat-riwayat mereka banyak sekali menceritakan tentangnya”.[35]

Yusuf al-Bahroniy mengatakan: “Tidak asing lagi, di dalam riwayat-riwayat ini terdapat banyak dalil dan ungkapan yang jelas dan gamblang, tentang pendapat yang kami pilih dan jelasnya perkataan kami. Seandainya kabar seperti ini masih bisa disangsikan, padahal riwayatnya sangat banyak dan menyebar, tentunya kabar tentang seluruh ajaran syariat Islam juga jelas bisa disangsikan keabsahannya. Karena pokoknya adalah sama, begitu pula jalan sanad, para perowi, para syeikh dan para penukilnya.

Sungguh, pendapat yang menyatakan tidak adanya perubahan dan penggantian dalam Alqur’an, itu tidak luput dari tindakan berbaik sangka dengan para imam (kholifah) yang dholim, bahwa mereka tidak berkhianat terhadap imamah kubro, padahal sudah jelas mereka telah berkhianat terhadap amanat lain yang lebih berbahaya terhadap agama, yang ditumpukan kepada mereka”.[36]

Sangat jelas sekali celaan kelompok ini, bahwa telah terjadi tahrif (perubahan) dalam alqur’an.

(b) Kelompok lain (yaitu para sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam-), dosa mereka yang tidak dimaafkan oleh syiah 12 imam, adalah karena mereka telah menyerahkan khilafah kepada Abu Bakar r.a., padahal harusnya mereka serahkan kepada Ali r.a.!

Terhadap kelompok pertama, para ulama syiah 12 imam memberikan udzur kepadanya, dan kata paling pedas yang mereka katakan hanyalah kata “mereka telah salah”, atau “mereka telah berijtihad dan berusaha men-ta’wil, tapi kita tidak sependapat dengan mereka”.

Andai aku tahu, sejak kapan masalah terjaganya Alqur’an atau ia telah dirubah dijadikan sebagai ajang untuk berijtihad?! Lalu Ijtihad macam apa yang terdapat dalam ucapan di pelaku kriminal ini bahwa “di dalam Alqur’an terdapat susunan kalimat yang lemah susunannya”! Sungguh itu merupakan petaka yang sangat besar.

Cobalah kita ambil contoh penilaian para ulama syiah 12 ini kepada mereka yang mengatakan terjadinya perubahan dalam Alquran:

Sayid Ali al-Milaniy -salah seorang ulama besar syiah 12 imam sekarang ini-, ia mengatakan dalam kitabnya ’Adamu Tahrifil Qur’an (hal. 34) ketika membela al-Mirza Nuri at-Thubrusiy: “al-Mirza Nuri at-Thubrusiy adalah salah seorang ahli hadits yang besar, kami menghormatinya, ia salah seorang ulama besar kami, kami sama sekali tidak mampu dan tidak boleh mencelanya, itu perbuatan yang haram, karena ia termasuk ahli hadits yang besar dari ulama kami”.[37] Cobalah renungkan kontradiksi yang ada ini!!

(181) Allah ta’ala berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian, dan janganlah kalian ikuti pemimpin selain Dia!” (al-A’rof:3), ini merupakan nash yang menunjukkan tidak bolehnya mengikuti orang lain kecuali Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

Adapun kebutuhan manusia untuk mengangkat imam, itu hanyalah agar seorang imam itu bisa melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepada kita sebagai orang yang menyembahnya. Bukan agar manusia mengetahui urusan agama yang tidak mereka kehendaki, yang dibawa oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

Kita juga mendapati, ketika Ali r.a. diminta untuk berhukum dengan Alqur’an, ia menyetujuinya, dan mengatakan bahwa berhukum dengan Alqur’an adalah benar. Jika tindakan Ali itu benar, maka itulah perkataan kami, dan jika ia menyetujui hal yang batil, maka itu bukanlah sifat dia.

Seandainya berhukum dengan Alqur’an itu tidak boleh dilakukan jika ada imam, tentunya Ali r.a. ketika itu mengatakan: “Bagaimana kalian menuntut berhukum dengan Alqur’an, padahal ada saya, sebagai seorang imam yang menyampaikan syariat dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-?!”

Apabila mereka mengatakan: Ketika Rosul -shollallohu alaihi wasallam- wafat, maka harus ada orang yang menyampaikan agama ini.

Kita katakan: Ini adalah sebuah kebatilan, klaim yang tanpa dalil, dan perkataan yang tanpa dasar yang mendukungnya.

Akan tetapi yang dibutuhkan oleh penduduk bumi ini, hanyalah penjelasan dan penyampaian dari beliau. Tidak ada bedanya, antara orang yang hadir di hadapanya, yang tidak hadir, dan mereka yang datang setelahnya. Karena jika beliau tidak bicara, tidak akan ada penjelasan apapun tentang agama ini.

Jadi yang dibutuhkan dari beliau adalah ucapan beliau yang kekal dan usaha beliau menyampaikan kepada seluruh penduduk yang ada di muka bumi ini.

Ditambah lagi: Seandainya benar perkataan mereka tentang kebutuhan terhadap seorang imam itu terus ada untuk selamanya, tentunya itu tidak selaras dengan kenyataan yang ada pada mereka yang tinggal jauh di pelosok negeri, dan tidak berada di hadapan imam. Karena tidak mungkin seluruh penduduk bumi hidup bersama dengan sang imam, dari yang tinggal di bagian timur dan barat, mereka yang fakir, mereka yang lemah, mereka yang sakit, wanita, dan mereka yang sibuk dengan mata pencahariannya yang akan celaka bila ia meninggalkannya. Oleh karena itu, harus tetap ada orang yang menyampaikan ajaran agama dari sang imam.

Jadi harus tetap ada orang yang menyampaikan ajaran agama dari sang imam, akan tetapi menyampaikan ajaran dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, tentunya lebih patut untuk diikuti, dari pada menyampaikan ajaran dari orang yang berada di bawah beliau! kenyataan ini tidak mungkin bisa mereka hindari.[38]

(182) Ada banyak ucapan dari para imam -yang riwayatnya benar dan shohih menurut syiah- mencela dan melaknat sekelompok pendusta, yang riwayat-riwayat mereka dijadikan sebagai pijakan untuk berdirinya agama syiah. Ucapan yang diriwayatkan dari para imam itu mencela mereka secara khusus. Akan tetapi para syeikhnya syiah tidak menerima celaan yang dialamatkan kepada mereka itu. Karena seandainya mereka menerima ucapan para imam itu, tentunya mereka akan berubah menjadi Ahlus Sunnah, dan meninggalkan keganjilan mereka. Seperti biasa, mereka menggunakan takiyah untuk menyikapi celaan itu.

Tidak ada tafsiran lain untuk tindakan mereka ini, kecuali bahwa mereka telah menolak ucapan para imam itu secara terselubung! Dan apabila dalam madzhab syiah, orang yang mengingkari nash-nya imam itu kafir, berarti dengan tindakan ini, mereka telah keluar dari agamanya!

Muhammad Ridho al-Muzhoffar -seorang syeikh dan pemuka mereka saat ini- mengakui, bahwa mayoritas perowi-perowi mereka telah dicela oleh para imam, dan celaan itu juga ada dalam buku-buku mereka sendiri. Ia mengatakan ketika mengomentari celaan para imam kepada Hisyam bin Salim al-Jawaliqiy: “Banyak datang celaan padanya, sebagaimana banyak celaan datang kepada para pembela ahlul bait besar lainnya dan para sahabat mereka yang tsiqoh (tepercaya). Adapun jawaban untuk celaan tersebut adalah jawaban yang umum dipakai dan dipahami”.[39] Yakni dengan menggunakan takiyah!

Lalu ia mengatakan: “Bagaimana dibenarkan celaan diarahkan kepada mereka yang agung itu? Bukankah agama yang benar ini (syiah) dan hak-hak ahlul bait itu tampak dan tegak, karena hujjah-hujjah mereka yang tajam?!”.[40]

Lihatlah bagaimana fanatisme mempengaruhi mereka! Mereka membela orang-orang yang dicela oleh para imam ahlul bait, dan menolak nash-nash dari para ulama ahlul bait yang mencela dan memperingatkan mereka, padahal nash-nash itu tertulis dalam kitab-kitab mereka sendiri.

Dengan tindakannya itu, seakan-akan mereka mendustakan ahlul bait dan membenarkan ucapan para pembohong itu, karena mereka beranggapan bahwa celaan para imam kepada mereka datang dari konsep takiyah. Jadi, mereka tidak mengikuti Ahlul Bait dalam ucapan mereka yang selaras dengan nukilan umat islam, akan tetapi mereka hanya mengikuti jejak para musuh Islam dan menerapkan gagasannya, lalu segera memakai takiyah untuk menolak ucapan-ucapan para imam mereka.

(183) Secara mutawatir semua orang tahu -baik yang alim maupun yang awam-, bahwa Abu Bakar r.a., Umar r.a. dan Utsman r.a. dulunya mempunyai hubungan yang sangat khusus sekali dengan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, dulunya mereka termasuk orang terdekat dan paling bersahabat dengan beliau, bahkan beliau menjadikan mereka semua sebagai saudara dengan jalan pernikahan, beliau juga mencintai dan memuji mereka.

Jika demikian, ada kemungkinan mereka itu berada pada jalan yang lurus, secara lahir dan batin, sebelum maupun sesudah wafatnya beliau, atau keadaan mereka itu sebaliknya, baik sebelum maupun sesudah wafatnya beliau.

Dan jika mereka tidak berada pada jalan yang lurus, maka itu melazimkan salah satu dari dua hal berikut ini:

Mungkin karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak mengetahui keadaan mereka, atau mungkin karena beliu ber-mudahanah (berpura-pura) dengan mereka. Apapun kemungkinannya, itu termasuk celaan yang paling berat terhadap diri Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, sebagaimana dalam sebuah bait:

“Jika anda tidak tahu, maka itu merupakan musibah… Akan tetapi jika anda tahu, musibahnya menjadi semakin besar”.

Seandainya mereka berubah setelah meniti jalan yang lurus, maka itu merupakan kehinaan dari Allah bagi Rosul-Nya pada umatnya yang paling dekat dan pemuka sahabatnya. Orang yang mendapat janji, agamanya akan mengalahkan semua agama, bagaimana mungkin para sahabat terdekatnya adalah orang-orang yang murtad?!

Hal ini dan yang sejenisnya, termasuk diantara celaan syiah yang paling berat terhadap diri Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, sebagaimana perkataan Abu Zur’ah ar-Roziy: “(Dengan perbuatannya itu), mereka sebenarnya ingin mencela Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, agar ada yang mengatakan: dia (Muhammad) itu lelaki jahat dan memiliki para sahabat yang jahat, seandainya ia itu orang yang saleh, tentunya para sahabatnya juga orang-orang yang saleh”.

(184) Kaum syiah mengatakan bahwa: “Imamah itu wajib, karena imam adalah wakil dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dalam menjaga syariat islam, memudahkan umat islam untuk meniti jalan yang lurus, dan menjaga serta melindungi hukum-hukum dari penambahan ataupun pengurangan”.[41]

Mereka juga mengatakan bahwa: “Harus ada imam yang diangkat oleh Allah ta’ala, karena alam ini membutuhkannya. Karena tidak ada yang bertentangan dengan hal ini, maka imam itu harus diangkat…”.[42]

Mereka juga mengatakan bahwa: “Imamah itu wajib karena ia merupakan bentuk kelembah-lembutan… ia menjadi kelemah-lembutan, karena jika manusia memiliki pemimpin yang ditaati, yang menuntun ke jalan yang lurus, yang melindungi mereka dari kelaliman, yang membawa mereka kepada kebaikan, dan yang mencegah mereka dari perbuatan jelek, pastinya mereka lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan. Dan itulah arti kelemah-lembutan”.[43]

Maka kita katakan: Imam kalian yang berjumlah 12 -selain Ali-, tidak ada yang menjadi kholifah yang memimpin seluruh kaum muslimin dalam urusan agama dan dunia, mereka tidak mampu melawan kelaliman, membawa umat kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan jelek! Lalu bagaimana kalian melekatkan kepada mereka dakwa-dakwa khayalan dan tak akan pernah terjadi itu?!

Hal ini, jika kalian merenunginya tentu akan memudarkan ke-imam-an mereka sebagaimana pemahaman kalian, karena kelemah-lembutan yang kalian dakwakan itu ternyata tidak pernah terjadi!

(185) Sesungguhnya kejahatan yang dilakukan oleh para sahabat menurut syiah, adalah karena mereka meninggalkan kepemimpinan Ali r.a, dan tidak menyerahkan kekhilafahan kepadanya, tindakan inilah yang menjatuhkan keadilan mereka menurut syiah.

Lantas mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama kepada sempalan-sempalan syiah yang mengingkari sebagian imam mereka, seperti: al-Fathiyyah, al-Waqifah dan yang lainnya. Bahkan kalian akan mendapati, mereka berhujjah dan memuji ulama-ulama mereka itu! Mengapa kontradiksi ini mereka lakukan?![44]


[1] Furu’ul Kafi, karangan al-Kulaini (7/127)

[2] Ushulul Kafi, karangan al-Kulaini (1/476)

[3] Nahjul Balaghoh (1/211)

[4] Kasyful Ghummah, karangan al-Arbili (2/373)

[5] Al-Anwar an-Nu’maniyah (2/53)

[6] Al-Anwar an-Nu’maniyah (2/55)

[7] Al-Kafi (1/239)

[8] Biharul Anwar (25/117)

[9] Biharul Anwar (26/37)

[10] Biharul Anwar (26/56)

[11] Biharul Anwar (27/65)

[12] Ushulul Kafi (1/24)

[13] Biharul Anwar (26/41)

[14] Biharul Anwar (26/41)

[15] Biharul Anwar (26/48)

[16] Ushulul Kafi (1/227)

[17] Al-Kafi (1/149)

[18] Al-Ghoibah, karangan at-Thusi (hal. 159-160)

[19] Biharul Anwar (102/108)

[20] Biharul Anwar (53/7)

[21] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 360)

[22] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 361)

[23] Al-Ghoibah, karangan at-Thusiy (hal. 420)

[24] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 433)

[25] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 436)

[26] Al-Kafi (1/338)

[27] Tarikh ma ba’dazh zhuhur (hal. 185)

[28] Ushulul Kafi (1/368), al-Ghoibah, karangan an-Nu’mani (hal. 197), al-Ghoibah, karangan at-Thusiy (hal. 263), Biharul Anwar (52/117).

[29] Ushulul Kafi (1/368), al-Ghoibah, karangan an-Nu’mani (198)

[30] Al-Ghoibah, karangan at-Thusiy (hal. 262), Biharul Anwar (52/103)

[31] Nahjul Balaghoh (hal. 97)

[32] ’Uyunu Akhbarir Ridho (2/60)

[33] Ushulul Kafi (1/181-184)

[34] Fashlul Khitob fi Itsbati Tahrifi Kitabi Robbil Arbab (hal. 211)

[35] Masyariqusy Syumus ad-Durriyah (hal. 126)

[36] Ad-Durorun Najfiyah, karangan Yusuf al-Bahroni (hal. 298)

[37] Tsumma Abshortul Haqiqoh (hal. 294)

[38] Al-Fishol fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal (4/159-160)

[39] Al-Imamus Shodiq, karangan Muhammad al-Husain al-Muzhoffar (hal. 178)

[40] Idem.

[41] As-Syi’ah fit Tarikh (hal. 44-45)

[42] Minhajul Karomah (hal. 72-73)

[43] A’yanus Syi’ah (1/2/hal. 6)

[44] Lihat sebagai contoh: Rijalul Kasyi (hal. 27, 219, 445, 465), Rijalun Najasyi (hal. 28, 53, 76, 86, 95, 139), Jami’ur Ruwah, karangan Ardubaily (1/413)