Hadits Syiah
| SIKAP AHLUL BAIT NABI TERHADAP ABU BAKAR AS-SHIDDIQ |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator | |
|
Berkatalah
Ja'far bin Baaqir tentang Ibnu Abbas, putera paman Rasul yang juga
putera paman Ali :
"Ketika Ibnu Abbas wafat dan jenazahnya dibawa keluar, tiba-tiba muncullah dari balik kafannya seekor burung putih bersih dan segera pula terbang ke angkasa lalu menghilang. Sungguh, ayahku sangat mencintai beliau." 1) Al-Mufid 2) Juga mengatakan"Amirulmu'minin semalam makan di rumah Hasan, semalam makan di rumah Hussein dan semalam makan dirumah Abdullah bin Abbas." 3) Ibnu Abbas, kesayangan Ali itu, menyatakan tentang Abubakar: "Semoga Abubakar memperoleh rahmat dari Allah. Beliau amat sayang kepada kaum fakir dan miskin. Tidak henti-hentinya beliau membaca Al-Qur'an. Beliau mengerti betul liku-liku agamanya dan merupakan seorang, pencegah kemungkaran, amat takut kepada Allah. Menganjurkan semua orang untuk berbuat kebaikan dan bertindak tegas terhadap para pelanggar larangan agama. Sepanjang malam berjaga. Siang hari berpuasa. Taat dan sederhana, melebihi kawan-kawannya yang lain. Beliau lebih zuhud dan menahan diri dibanding kawan-kawannya." 4) Hasan bin Ali, imam ma'sum kedua bagi golongan Syi'ah, yang wajib mereka ikuti ajarannya itu, mengatakan tentang Abubakar bahwa Rasulullah pernah mengatakan : "Dalam diriku martabat Abubakar adalah alat pendengaranku." 5) Hasan bin Ali RA sangat menghormati Abubakar dan Umar, sehingga dijadikan persyaratan dalam membuat perjanjian dengan Mu'awiyah RA. Diwajibkan pengamalan hukum berdasarkan Al-Qur'an, sunnah Rasul dan sebagaimana yang dilaksanakan oleh Khulafa' Ar-rasyidiin. Dalam naskah lain disebut Khulafa' Ash-Shoolihiin. 6) Imam Syi'ah yang keempat, Ali bin Al-Husin bin Ali, diriwayatkan bahwa beliau telah didatangi oleh beberapa orang Iraq. Mereka itu menjelek-jelekkan nama Abubakar, Umar dan Usman RA. Setelah orang-orang itu selesai berbicara demikian, Ali bin Al-Husin berkata : "Mengapa kalian tidak mau mengatakan bahwa mereka adalah kaum muhaajiriin angkatan pertama yang diusir dari kampung halaman mereka dan dijauhi dari harta benda mereka, demi mendambakan karunia dan ridha Allah semata ? Mereka itulah orang-orang yang paling benar." Kemudian ia menyebut ayat : "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (anshaar) sebelum kedatangan mereka (muhaajiriin), mereka mengasihi orang-orang yang hijrah kepada mereka. Dan tidak ada dalam hati mereka rasa iri karena orang-orang Muhaajiriin memperoleh harta rampasan bahkan mereka lebih mengutamakan (al-muhaajiriin) daripada mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri sangat membutuhkannya." (Al-Hasyr : 9) Walaupun demikian kaum Syi'ah masih saja berpegang pada pendirian mereka, tidak bergeser setapakpun. Melihat sikap mereka yang jahat itu, Ali Al-Hasan bin Ali mengatakan dengan tegas : "Rupanya kalian ini samasekali tidak berkeinginan untuk menjadi antara dua golongan yang disebut tadi. Sungguh, aku bersedia sebagai saksi di hadapan Allah bahkan kalian bukanlah dari golongan yang disebut Allah : 'Yaa Tuhan kami, berilah ampunan kepada kami dan kepada saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.' Keluarlah kalian dari rumah ini, Allah akan menghukum kalian.' " 7) Putera Zainul Abidin, Muhammad bin Ali bin al-Husein, yang dijuluki Al-Baqir, Imam ma'sum Syi'ah yang kelima, telah ditanya tentang memperhias pedang, sebagaimana yang dikisahkan oleh al-Arbili8) dalam bukunya "Kasyful Ghummah" : Berdasarkan kisah Abi Abdullah Al-Ja'fi yang diperoleh dari Urwah bin Abdullah : "Telah kutanya Abu Ja'far Muhammad bin Ali AS tentang memperhias pedang ?" Beliau menjawab :"Tidak mengapa, karena Abubakar Siddiq telah menghias juga pedangnya." Kutanya pula padanya : "Kau sebut ia itu 'Ash-Shiddiiq'?" Secepatnya imam itu bergeser menghadap qiblat sambil berkata dengan tandas : "Ya, benar Ash-Shiddiiq. Siapa yang tidak menyebut ia sebagai Shiddiiq, maka Allah tidak akan lagi mempercayai kata-katanya di dunia dan di akhirat." 9) Bukankah kakeknya sendiri, Rasulullah, yang mengucapkan wahyu Ilahi dan menjuluki Ash-Shiddiiq, sebagaimana yang dikisahkan Al-Bahrani dalam tafsirnya Al-Burhan, yang dikutip dari Ali bin Ibrahim mengatakan : Dari kisah ayahku yang diperoleh dari beberapa ahli hadits bahwa Abi Abdullah AS mengatakan "Ketika Rasulullah di gua, beliau berkata kepada Abubakar : 'Aku seperti melihat kapal Ja' far beserta kawan-kawannya terombang-ambing di lautan. Perhatikanlah para pendukungnya yang sedang celaka itu'. Abubakar menegur : Kau lihatkah semua itu, ya Rasulullah ? Ya, aku lihat semua itu, jawab Rasulullah. Perlihatkan aku, ya Rasulullah, pinta Abubakar. Lalu Rasulullah menyapu kedua mata Abubakar. Maka terlihatlah semuanya itu. Setelah itu Rasulullah mengatakan : Kau adalah Ash-Shiddiiq. 10) At-Tobrusi juga bercerita bahwa al-Baqir mengatakan : "Aku tidak mengingkari keutamaan Abubakar dan tidak pula mengingkari keutamaan Umar, tetapi bagaimanapun Abubakar lebih utama dari Umar." 11) Kemudian puteranya, Abu Abdullah Ja'far, yang dijuluki sebagai Yang Keenam, imam ma'sum Syi'ah yang keenam telah ditanya tentang Abubakar dan Umar sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Qaadhi Nurullah Asy-Syusyturi, tergolong Syi'ah Ghulat, yang terbunuh tahun 1019 : "Telah bertanya seseorang kepada Al-Imam Ash-Shoodiq AS : Wahai putera Rasulullah, bagaimanakah pendapat anda tentang Abubakar dan Umar ? Imam itu lalu menjawab : 'Kedua imam itu adil dan bijaksana. Mereka hidup dalam kebenaran dan wafat dalam kebenaran pula. Allah akan melimpahkan rahmatnya kepada mereka berdua di hari kiamat nanti." 12) Al-Kulaini bercerita panjang lebar perihal ucapan imam keenam tentang kezuhudan Abubakar yang tak ada tandingannya itu. Dikatakannya bahwa kezuhudan Abubakar menduduki tempat pertama dan setelah itu menyusul Abu Dzar dan Salman. Diriwayatkan pula oleh Arbili bahwa Imam keenam itu berkata: "Aku dilahirkan Abubakar dua kali." 13) Ibunya Ummu Farwah binti Al-Qosim bin Muhammad bin Abubakar, sedangkan ibu dari Ummu Farwah adalah Asmaa' binti Abdurrahman bin Abubakar." 14) Dengarkanlah pernyataan imam terakhir, yaitu Hasan bin Ali yang dijuluki al-Hasan al-'Askari Imam kesebelas ia menceritakan kisah Hijrah. Setelah Rasulullah menanyakan kepada Ali RA tentang tidurnya Ali di tempat Rasulullah, kemudian beliau bertanya kepada Abubakar RA : "Relakah anda bersama aku, meminta sebagaimana yang aku pinta, dan anda mengetahui bahwa anda telah memikul beban apa yang aku da'wahkan, dan karena aku pula anda mengalami berbagai siksaan ? Abubakar menjawab : Ya Rasulullah, andaikan aku diperkenankan untuk hidup sepanjang umur dunia ini dan selama itu aku disiksa dengan siksaan yang paling pedih sekalipun tanpa harus mati, aku lebih rela demi kecintaanku kepadamu, Bari pada aku diberi keni'matan yang berlimpah ruah tapi aku diharuskan menentangmu. Diriku, hartaku dan anak-anaku kukorbankan semuanya demi membela engkau. Lalu Rasulullah berkata Tak satu dosapun yang melekat dalam hati saat Allah memeriksanya. Dan semuanya sesuai dengan yang kau ucapkan, sehingga kau dijadikan Allah senilai sebagai telingaku, mata, kepada dari jasad dan roh dari badan."15) Telah banyak kitab yang ditulis oleh golongan Syi'ah yang mengisahkan tentang penghargaan Muhammad SAW dan Ali bin Abi Thalib RA imam pertama terhadap Abubakar. Sebagai pelengkap, Bi bawah ini kami kisahkan dua buah riwayat yang berasal dari ahlulbait Ali, yang juga terdapat dalam kitab-kitab mereka. Kisah yang pertama dari Zeyd bin Ali bin Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, adik dari Muhammad al-Baqir dan paman dari Ja'far ash-Shodiq, yang mengatakan : "Beliau adalah kawan terdekat Al-Quran."16) Zeyd bin Zainul AbiBin bin Al-Husein telah diminta pendapatnya tentang Abubakar, sebagaimana yang disebut dalam Nasikhut Tawaariikh. Tokoh-tokoh Kufah yang membai'at Zeyd, suatu hari mendatangi Zeyd dan bertanya : "Bagaimana pendapat anda tentang Abubakar dan Umar ?" Beliau menjawab : "Mereka adalah orang-orang baik. Ahlulbaitku juga sependapat dengan aku dan menyatakan mereka adalah orang-orang baik. Tidak pernah mereka mendhalimi salah seorang pun dari fihak kami. Dan mereka mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasulnya." 17) Setelah mereka mendengar sikap Zeyd yang tegas itu, maka tokoh-tokoh itu menolaknya (rofadhohu) dan mereka berpihak pada al-Baqir. Kemudian Zeyd mengatakan : "Mereka telah menolak kami saat ini." Karena itulah mereka disebut sebagai Jama'ah Arroofidhah.18) Dan kisah kedua, tentang kisah yang dibuat-buat oleh Syi'ah terhadap diri Salman Al-Farisi, yang oleh mereka dijuluki sebagai Salman Al-Muhammadi, dan digolongkan sebagai ahlulbait Nabi, karena Rasulullah pernah mengatakan : "Salman dari kami ahlulbait."19) "Pada saat itu setelah wafatnya Nabi, semua sahabat telah murtad kecuali tiga orang, Miqdad, Abu Dzar dan Salman."20) Dikatakan pula : "Bahwa Salman adalah pintu gerbang Allah di bumi, siapa yang mengenalinya maka ia sebagai mu'min dan siapa yang mengingkarinya adalah kafir."21) Padahal Salman sendiri menyatakan : "Rasulullah telah menyatakan tentang sahabatnya itu sebagai berikut : 'Tak ada yang melebihi Abubakar dalam puasa dan shalat, demikian pula keyakinan hatinya'." 22 ) Demikian hormatnya Rasulullah kepada Abubakar, pada saat perang Badr Abubakar telah menghunus pedangnya untuk berduel dengan salah seorang puteranya yang kebetulan berada di barisan Quraisy. Secepatnya Rasulullah mencegahnya dengan berkata : "Sarungkan kembali pedang itu. Kembalilah ke tempatmu, agar engkau bisa lebih lama bersama aku." Allah memanjangkan usia Abubakar demi sebagai pendamping Rasulullah.23)
1"Rijaalul Kassyie" bal. 55, cetakan Karbala. 2Al-Mufid adalah gelar yang diberikan kepada Muhammad bin Nu'man Al-'Akbari AI-Bagdadi. Lahir tahun 338 dan wafat di Baghdad tahun 413. Ia dikenal dengan nama julukannya Al-Mufid, karena gelar itu diberikan kepadanya oleh Imam yang Ghaib. (Ma'aalimul Ulama, hal 101). Ia merupakan tokoh dan penghulu ulama Syi'ah. Dianggap sebagai orang yang paling menguasai bidang fiqh, ilmu Kalam dan arriwaayah (rawi hadits). Ia termasuk andalan golongan Syi'ah. Karya tulisnya hampir dua ratus judul buku, baik tebal maupun tipis. 3Al-Irsyad, halaman 14. 4Naasikhut Tawaariikh, juz V Kitab kedua, halaman 143 dan 144. Cetakan Teheran. 5Uyuunul Akhbaar, juz I hal 313; Juga pada "Kitab Ma'aanil Akhbaar", hal 110 cetakan Iran. 6Muntahal Ammaal, halaman 212, juz II, cetakan Iran. 7Kasyful Ghummah, karya Arbili jus II, hal. 78, cet. Tibris Iran. 8Al-Arbili, Nama lengkapnya Baha'uddin Abul Hasan Ali bin Alhusein Fakhruddin lsa bin Abil Fatah Al-Arbili. Lahir pada abad ke tujuh Hijriyah di Arbil dekat Musil, wafat di Bagdad tahun 693. Kata Al-Qummi, Arbili termasuk ulama besar Imamiyah. Ia seorang alim, penyair, sasterawan, penulis, ahli Hadits, sebagai andalan yang terpuji, memiliki keutamaan dan kebaikan, sebagai hujjah. Iapun sebagai penulis kitab Kasyful Ghummah Fii Ma'rifatil A'immah yang diselesaikan penulisanya tahun 687. Banyak bait syairnya yang memuji para imam yang dimuat dalam buku Kasyful Ghummah. Dan kitab ini tinggi nilainya, menyeluruh dan indah. (AI-Kunni Wal Alqoob jus II hal. 14 dan 15, cet, Qum). Tentang tokoh ini Al-Khowansari berkata : Ia termasuk tokoh besar ahli hadits Syi'ah, tergolong ulama yang 107. Telah sepakat seluruh ulama Imamiyah bahwa Ali bin Isa ini sebagai ulama besarnya, yang tunggal corak tulisannya. Seorang ulama yang tulisannya terjamin dari sifat salah. (Roudhootul Jannaat, jus 4 hal 341, 342). 9Kasyful Ghummah, jus II hal 147. 10al-Burhan, jus 2 hal. 125. 11Al-Ihtijaaj, karya At-Tobrusi, hal. 230. Nama lengkap Attobrusi, ialah Abul Masur Ahmad bin Ali bin Abi Thalib dari Tobrustan. Ia termasuk tokoh angkatan pertama. Karyanya Al-Ihtijaj, buku yang mendapat tempat dan penghargaan di kalangan Syi'ah. Disebut pula, ia sebagai ulama yang bijaksana, ahli hadits yang diandalkan. Kitabnya sangat bermanfaat. (Roudhaatul Jannaat jus I, hal. 65). Dalam kitab Al-Kunni Wal Alqoob, ulama Syi'ah ini juga mendapat pujian yang cukup besar. 12"Ihqooqul Hak", karya Syusyturi jus I hal. 16, cet. Mesir. Nama lengkap Syusyturi adalah Nurullah bin Syarafud-Din Asyusyturi, Ulama Syi'ah yang ternama di India. Ia sebagai kadi di Lahore di zaman Jahangir, sultan dari Monggolia. Seorang ahli Hadits, ahli ilmu Kalam, peneliti yang bijaksana, allamah. Banyak kltab-kitabnya sebagai pembelaan terbadap Syi'ah. la mati terbunuh karena dituduh pengikut Syi'ah rafidhah pada abad sebelas. la digelari oleh golongan Syi'ah sebagai Syahid ke tiga. (Roudhaatul Jannaat jus VIII, hal. 160). Asyusyturi adalah pengarang buku "Majaalisul Mu'minin" dan "Ihqooqul Haq", dan "Mashoo'ibun Nawaashib". Buku-bukunya sangat bernilai bagi golongan Syi'ah, karena luas dan padatnya ilmu yang dijangkau. (Al-Kunni Wal Al-Qoob). 13Kasyful Ghummah, jus II, ha]. 161. 14Firoqusy karya Naubakhti, hal 78. 15Tafsir al-Hasan al'Askari, hal. 164 dan 165. Cet. Iran. 16Al-Irsyad, Lilmufid, hal. 268, dalam bab "Dzikir Ikhwatuhu". 17Naasikhut Tawaariikh, jus II, hal. 590. Buku tersebut karya Mirza Taqi Sibhar Khan. seorang fanatikus Syi'ah. Buku tersebut ada juga yang berbahasa Persia. (A'yaanusy Syi'ah, jus II, hal. 132). 18Ibid. 19Rijaalul Kasysyi, hal. 18 dan 20, cet. Karbala. 20Al-Roudhah minal kaafi, jus VIII, hal, 245. 21Rijaalul Kasysyi, hal 70. 22Majaalisul Mu'minin, karya Syusyturi, hal. 89. 23Kasyful Ghummah, jus I hal, 190. |
| Berikutnya > |
|---|









